Mendengar Suara dari Ujung OKU Selatan: Mengapa Literasi Digital adalah Hak, Bukan Kemewahan
Oleh: Rani Nawang Sari


Saya merasa sangat bahagia bisa kembali berbagi di sini. Kali ini, saya ingin mengajak rekan-rekan menyelami sebuah konsep yang sedang hangat dalam dunia pendidikan: Implementasi Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam Pembelajaran di Kelas.




Sebagai pendidik, kita harus memahami bahwa Deep Learning secara kurikulum menuntut murid untuk tidak sekadar menghafal, tetapi mampu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang mereka pelajari. Di era ini, pembelajaran mendalam tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Mengapa? Karena teknologi mampu menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, personal, dan kontekstual. Teknologi adalah katalisator yang mengubah metode tradisional menjadi pengalaman yang lebih bermakna.

Kolaborasi Tanpa Batas dengan Google Workspace
Salah satu alat yang paling mumpuni untuk mendukung Deep Learning adalah Google Workspace for Education. Dengan dukungan akun belajar.id yang sudah tersedia bagi guru dan murid, kolaborasi dalam domain yang sama menjadi sangat mudah—baik itu antar-murid, antar-guru, maupun interaksi guru-murid.

Namun, teori seringkali berbenturan dengan realitas di lapangan.

Ujian Nyata: Diesel, Mati Listrik, dan Semangat yang Tak Padam
Kejadian menarik terjadi saat saya mendemonstrasikan kolaborasi menggunakan Google Docs di SMAN 1 Ranau Selatan, Kabupaten OKU Selatan. Di luar prediksi, listrik padam. Mesin diesel segera dinyalakan sebagai energi alternatif, namun tantangan berikutnya muncul: kualitas sinyal internet merosot tajam.

Tanpa membuang waktu, saya memutuskan untuk beralih menggunakan fitur Google Docs secara Offline. Saat diskusi mengenai fitur offline sedang berlangsung, koneksi internet benar-benar hilang total. Saya baru menyadari bahwa di daerah ini, jika listrik padam lebih dari satu jam, sinyal internet akan ikut menghilang. Bahkan, masyarakat setempat sudah terbiasa menghadapi mati listrik hingga berhari-hari.

Modifikasi sebagai Kunci Inovasi

Melihat kondisi ini, penerapan teknologi dalam Deep Learning yang seharusnya berjalan online dan interaktif tidak bisa dilakukan tanpa modifikasi. Saya melihat betapa hebatnya para guru di sana melakukan berbagai siasat agar pembelajaran tetap berjalan di tengah musim mati listrik.

Pengalaman di OKU Selatan ini mempertegas keyakinan saya: Literasi digital bagi murid adalah hak, bukan barang mewah yang ikut padam saat listrik mati. Tugas kita sebagai pemimpin pembelajaran adalah memastikan bahwa setiap murid, di ujung daerah manapun, tetap mendapatkan haknya untuk mengakses masa depan melalui teknologi—apa pun tantangannya.

Post a Comment

Powered by Blogger.