Showing posts with label PMM. Show all posts

Projek Kearifan Lokal merupakan salah satu dati 3 tema yang dipilih pada fase E Kurikulum Merdeka di SMAN 2 OKU. Pada pelaksanaannya murid diarahkan untuk melakukan serangkaian kegiatan agar dimensi dari Profil Pelajar Pancasila dapat berkembang sesuai harapan. Seperti salah satunya Dimensi bernalar kritis. Murid diharapkan dapat mengidentifikasi, menganalisis dan mengolah informasi dan gagasan. Sehingga diharapkan pada akhir fase murid dapat secara kritis mengidentfikasi serta menganalisis gagasan serta informasi yang kompleks dan abstrak dari berbagai sumber. Memprioritaskan suatu gagasan yang paling relevan dari hasil klarifikasi dan analisis. 

Untuk itu pada pelaksanaannya murid memerlukan kegiatan dimana dirinya dapat mengidentifikasi dan menganalisis kearifan lokal yang ada. Peta Budaya merupakan salah satu fitur pendukung dari portal Rumah Belajar yang digunakan dalam mendukung kegiatan murid pada bagian ini. Pada Peta Budaya murid bisa menemukan berbagai budaya di Indonesia dan ragam keunikan lainnya. Sehingga murid dapat mengidentifikasi dan menganalisis berbagai ragam kearifan lokal yang ada. Hasil ini dikombinasi dengan wawancara terhadap rekan sebaya, kakak kelas dan para guru terkait kearifan lokal masing-masing akan didapatkan suatu informasi yang lengkap. Hingga akhirnya setelah proses tersebut dilakukan murid dapat memprioritaskan suatu gagasan. 

Setelah mendapatkan suatu gagasan untuk ditindaklanjuti dan dianalisis sehingga murid mendapatkan suatu karya untuk dipresentasikan. Kumpulan karya murid dilaporkan dalam format portofolio digital sehingga hal ini akan menjadi lebih dekat dengan teknologi. Upaya ini diwujudkan dalam rangka membentuk ekosistem digital di sekolah.  

Silahkan klik link berikut untuk memberikan umpan balik karya saya di PMM  https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/video/143449. Untuk proses kegiatan projek kearifan lokal dan pameran karya bisa disimak pada video berikut.


Berbagi di SD IT Global Batumarta merupakan suatu pengalaman tersendiri. Disini saya berbagi dengan tema Berdiferensiasi dengan Rumah Belajar. Banyak pengalaman seru saat berbagi. Hal yang luar biasa adalah beberapa guru di sekolah ini adalah murid saya. Ya, mereka adalah murid saya saat dibangku SMA. Saat ini mereka adalah mitra dan rekan sejawat dalam mengajar. Sungguh luar biasa. Ada rasa senang dan bangga saat mereka begitu semangat untuk menambah wawasan dan pengalaman. Binar mata penuh antusias sungguh merupakan suatu hal yang tidak ternilai. 



Banyak hal yang saya peroleh dari kegiatan kali ini. Bagaimana mereka dengan fasilitas yang ada berusaha untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Bagaimana mereka mengutamakan karakter siswa diantara lainnya. Saya banyak berefleksi dari kegiatan berbagi kali ini. Salah satunya yaitu hasil asesmen dan pengamatan terhadap peserta didik di dapati beberapa siswa memiliki keistimewaan sehingga dalam proses pembelajarannya harus mengerahkan ilmu pendidikan inklusif. 

Silahkan disimak dokumentasi kegiatan berbagi dengan tema "Berdiferensiasi dengan Rumah Belajar"

Pembelajaran berdiferensiasi bisa dilakukan dengan memanfaatkan Rumah Belajar dalam mewujudkan Ekosistem Digital. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam persiapan belajar murid sebelum memulai pembelajaran yaitu
  1. Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru.
  2. Minat belajar merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.
  3. Profil pelajar merupakan bagaimana murid paling baik untuk belajar.


Mengakomodir pembelajaran berdiferensiasi ini ada tiga strategi yang bisa dilakukan yaitu
  1. Diferensiasi konten
  2. Diferensiasi proses
  3. Diferensiasi produk
Rumah Belajar memiliki berbagai fitur yang bisa digunakan dalam mendukung pembelajaran berdifernsiasi antara lain sumber belajar, edugame, augmented reality, laboratorium maya dan banyak lainnya. Pada sumber belajar murid bisa mendapatkan madia pembelajaran dalam bentuk video, web, multimedia pembelajaran interaktif dan audio. Edugame menawarkan game edukasi yang cocok digunakan sebagai media siswa kinestetik dan juga disukai oleh banyak murid. Untuk augmented reality siswa mendapatkan pengalaman melihat bentuk asli dari materi yang dipelajari, murid visual sangat menyukai media ini. 

Pada pembelajaran asam basa saya menyiapkan satu link microsite yang memuat kumpulan materi yang dibutuhkan murid. Pemilihan microsite ini karena dekat dengan murid saat mereka berselancar di sosial media atau belanja online mereka sering menemukan microsite ini. Setelah proses pembelajaran berakhir, siswa diminta tagihan tugas-tugas dalam bentuk portofolio digital. Sehingga murid dekat dengan teknologi. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan ekosistem digital sekolah. Cukup satu link dapat membuka semua tagihan murid. Disamping itu keterampilan literasi digital murid meningkat.

Awal pembelajaran saya membuka pembelajaran, memberikan pertanyaan pemantik kepada murid untuk memancing rasa ingin tahu. Kemudian saya memberikan media pembelajaran dalam bentuk microsite untuk selanjutnya murid menggali informasi dari berbagai bentuk yang bisa dipilih, yaitu video pembelajaran, multimedia pembelajaran interaktif, dan emodul. Diferensiasi konten dilakukan pada tahapan ini. Setelah menggali informasi murid menyelesaikan masalah yang dihadapi pada LKPD dengan dipadu dengan edugame agar siswa lebih merasa tertantang dan mengakomodir gaya belajar murid. Dibagian penutup untuk tagihan projek murid diminta untuk membuat Google Site sebagai portofolio digital berisi kumpulan tugas murid pada materi asam basa (Larutan asam basa, larutan penyangga, hidrolisis garam). Bagian ini merupakan bagian dari usaha saya dalam menghadirkan ekosistem digital sekolah. 

Mohon umpan balik untuk praktik baik ini di PMM dengan link https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/video/143453

Berikut adalah video dokumentasi kegiatan praktik baik pembelajaran berdiferensiasi memanfaatkan Rumah Belajar Wujudkan Ekosistem Digital. Silahkan disimak.


Kali ini Komunitas Smanda Belajar berkolaborasi dengan Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat dalam suatu webinar dengan tema "Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK". Komunitas Smanda Belajar membuat webinar di PMM dengan link yang sama dengan Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat. Sehingga kedua anggota komunitas dapat berbagi pengalaman dan praktik baik.





Komunitas Belajar adalah sekelompok guru, tenaga kependidikan, dan pendidik lainnya yang memiliki semangat dan kepedulian yang sama terhadap transformasi pembelajaran melalui interaksi secara rutin dalam wadah di mana mereka berpartisipasi aktif. Adapun manfaat dari komunitas belajar ini adalah memfasilitasi belajar bersama tentang Kurikulum Merdeka, memfasilitasi diskusi pemecahan masalah sekaligus berbagi praktik baik Kurikulum Merdeka, memfasilitasi kolaborasi pengembangan perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka dan memfasilitasi refleksi pembelajaran rekan sejawat. Apabila ingin mendaftar Komunitas Belajar bisa dilakukan di Platform Merdeka Mengajar dengan syarat pengurus sudah menyelesaikan minimal satu topik Pelatihan Mandiri.

Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK yang diangkat kali ini adalah Praktikum Virtual Enzim Katalase Memanfaatkan Fitur Laboratorium Maya dari Portal Rumah Belajar oleh Pak Rahmat Effendi dari Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat dan Implementasi Rumah Belajar dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Wujudkan Ekosistem Digital oleh Ibu Rani Nawang Sari dari Komunitas Smanda Belajar. 

Pada saat webinar berlangsung ternyata banyak peserta diluar komunitas juga ikut bergabung, seperti dari Jombang, Sumatra Barat, Pontianak, Banjarnegara. Sehingga makin seru sharing dan diskusi yang terjadi. Hal ini disebabkan pengalaman dan temuan yang berbeda dari masing-masing peserta serta saling refleksi pembelajaran yang telah dilakukan. Kegiatan webinar bisa disaksikan pada video berikut

Referensi: Materi “Komunitas Belajar” dari Bimbingan Teknis Penguatan IKM di Tangerang, pada 13 - 16 Juni 2022



 

Banyak rekan-rekan guru yang bingung dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang saat ini sedang berjalan. Ada beberapa sekolah ternyata masuk kategori IKM Mandiri Belajar. Tetapi tidak sedikit yang menjalankan Kurikulum Merdeka karena masuk dalam kategori IKM Mandiri Berubah. Keresahan dan kebingungan itu makin bertambah karena Kementrian Pendidikan tidak menyelenggarakan pelatihan sebagaimana dilakukan saat awal pelaksanaaan Kurikulum 2013. Ada beberapa guru terpilih yang kemudian menjadi Instruktur Kabupaten atau Instruktur Nasional. Mereka bertugas menjadi narasumber dan melakukan pelatihan bagi guru-guru untuk pelaksanaan Kurikulum 2013.

Berbeda dengan IKM ini, Kementrian Pendidikan tidak melakukan pemilihan instruktur baik nasional maupun kabupaten, juga tidak melakukan pelatihan. Guru diminta untuk belajar mandiri. Tentu ini hal yang baru bagi sebagian besar guru. Kebingungan mulai melanda. Tidak tau harus mulai dari mana, apa yang harus dilakukan.

Ternyata Kementrian Pendidikan sudah mengantisipasi dan menyiapkan semuanya untuk menjawab kebingungan dan kegalauan para guru. Platform Merdeka Mengajar (PMM) hadir untuk hal itu. PMM merupakan suatu paket komplit untuk memenuhi kebutuhan guru. Didalamnya guru dapat mengajar, belajar dan berkarya. Ada beberapa fitur untuk hal itu. Silahkan klik PMM 

 

Pelatihan Mandiri dalam PMM dibuat untuk guru belajar secara mandiri dan fleksibel. Dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Ada beberapa topik ditampilkan terkait IKM seperti Merdeka Belajar, Kurikulum Merdeka dan banyak lainnya. Materi disajikan dengan sederhana dan mudah diakses. Terdapat video singkat dengan tampilan menarik dan mudah dicerna terkait topik pelatihan. Ada pula refleksi dan posttest untuk mereview pemahaman guru terhadap materi. Setelah unggah aksi nyata dan divalidasi maka guru akan mendapat sertifikat.

Hal ini saya sampaikan kepada para guru SD yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru Gugus III Dewantara Kec. Lubuk Raja Kab. Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatra Selatan 16 Agustus 2022. Berikut dokumentasi kegiatan.


 

Peta Budaya merupakan salah satu fitur dalam platform Rumah Belajar. Pada pelaksanaan projek kearifan lokal, peta budaya merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai kegiatan siswa. Pada pelaksanaan projek guru diminta untuk membuat modul projek yang berisi aktifitas yang harus dilakukan siswa. Berbeda dengan modul ajar dalam modul projek harus memuat beberapa tahap yaitu 

  1. Tahap Temukan
  2. Tahap Bayangkan
  3. Tahap Lakukan
  4. Tahap Bagikan
Pada tahap temukan guru diminta untuk merancang kegiatan dimana siswa mampu mengidentifikasi diri dan sosial, serta tantangan yang ada disekitar terkait dengan kearifan lokal budaya. Untuk itu tentu siswa harus dibekali dengan berbagai informasi dan pengalaman belajar mengenai berbagai kearifan lokal yang ada disekitar.



Fitur Peta Budaya menyajikan berbagai macam kebudayaan dan sejarah dari kearifan lokal yang ada di Indonesia. Begitu juga dengan adat istiadat, dan permainan tradisional yang ada. Ada pula informasi mengenai museum yang bisa jadi tidak terdapat di daerah tinggal siswa. 

Setelah siswa menggali identitas diri dan sosial serta menemukan tantangan yang ditemui dari segi kearifan lokal baru bisa melangkah ke tahap selanjutnya yaitu bayangkan. Harapannya setelah menelusuri fitur Peta Budaya siswa bisa mendapat gambaran apa yang harusnya mereka lakukan setelah menemukan tantangan yang ada. 

Setelah siswa selesai hingga tahap akhir dari modul projek yaitu tahap bagikan, maka siswa dituntut untuk mampu menunjukkan apa yang diperolehnya setelah melakukan kegiatan projek. Pada tahap ini siswa diminta membuat Portofolio Digital sebagai salah satu bekal agar siswa memiliki kecakapan digital dan dapat diaplikasikan dalam kebidupan bermasyarakat kelak. Penggunaan Portofolio Digital juga dalam rangka perwujudan ekosistem digital sekolah. Protofolio Digital yang dibuat siswa dalam bentuk google site yang memuat seluruh aktifitas siswa selama mengikuti Projek. Link Portofolio Digital Siswa juga bisa dilihat dengan klik disini.

Praktik baik ini dibagikan dalam webinar Komunitas Belajar.id Sumatra Selatan "Praktik Baik Pemanfaatan Rumah Belajar" yang bisa disimak dalam video dibawah. Webinar ini merupakan kolaborasi dengan Sahabat Rumah Belajar Sumatra Selatan tahun 2022 yang terdiri dari Rani Nawang Sari, Febri Sulih Pambudi, Randy Oktari, dan Syari Hasniati. Masing-masing membawakan praktik baik yang sudah dilakukan. Selain saya Rani Nawang Sari dengan praktik baik Pemanfaatan Peta Budaya dalam Projek Kearifan Lokal, juga ada Febri Sulih Pambudi dengan judul Sumber Belajar Mempermudah Pemahaman Pembelajaran Kimia. Randy Oktari menyampaikan Pemanfaatan Fitur Rumah Belajar Edugame untuk Pembelajaran yang Menyenangkan. dan Syari Hasniati berbaci cara Mengembangkan Bernalar Kritis dengan Bermain Augmented Reality Rumah Belajar. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai Guru Penggerak ibu Ohorella Erma dan Pembicara Tamu Bapak Wahyu Hidayat sebagai Duta Rumah Belajar 2021.


Salah satu upaya dalam mewujudkan ekosistem digital disekolah adalah menggunakan bank data yang dikemas secara mudah akses dalam microsite. Seperti diketahui bahwa ditiap sekolah terdapat Tenaga Administrasi Sekolah yang mengurusi seluruh keperluan administrasi dan pengarsipan berkas. Baik itu data kepegawaian, data kesiswaan hingga penilaian dan dokumentasi kegiatan sekolah. Selain untuk memudahkan dalam pencarian ketika dibutuhkan hal ini juga bermanfaat untuk akreditasi sekolah.

Tumpukan berkas di kantor merupakan pemandangan yang umum ditemui dibanyak sekolah. Manajemen arsip yang berantakan seringkali menunda dan menghambat pekerjaan sebagian guru. Sebagai bagian dari ekosistem sekolah hal ini berimbas kepada warga sekolah pada umumya dan siswa pada khususnya. Saat siswa membutuhkan rekap nilai, data ijazah, dan lainnya akan terhambat jika menataan berkas dan data tidak rapi dan sulit diakses. Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah menyimpan seluruh data secara digital. 

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan dan memilah berkas menjadi kelompok data. Kelompok data terbagi menjadi Kepegawaian, Kesiswaan dan Kurikulum (penilaian). Kelompok Kepegawaian berisi seluruh data guru dari SK, Berkala, Surat Tugas, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, dan data kepegawaian lainnya. Untuk Kesiswaan berisi foto siswa, foto kegiatan siswa, daftar absen kelas, data siswa (alamat, data orang tua, Ijazah) dan data sejenis lainnya. Sedangkan untuk Kurikulum atau penilaian berisi perangkat mengajar guru, leger siswa, dokumen supervisi, backup rapot siswa.



Seluruh berkas hardcopy diubah kebentuk softcopy untuk diunggah ke drive bersama. Dalam Drive dibuat folder sesuai kelompok data. Masing-masing folder kemudian disalin linknya dan dimasukkan dalam microsite. Pemilihan microblog karena mudah dalam akses dan simpel dalam penggunaan serta lebih kekinian dan familiar bagi Tenaga Administrasi Sekolah.

Untuk akses pengunjung dibatasi hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses seperti Tenaga Administrasi Sekolah, Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah yang bisa mengakses untuk menghindari penyalahgunaan data. 

Sekolah tidak hanya mencetak siswa dengan kemampuan kognitif yang baik, tetapi juga memiliki disiplin positif yang baik. Suasana positif sangat mendukung dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif karena dengan suasana yang positif, murid dan guru akan menemukan suatu kondisi pembelajaran yang menyenangkan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan tanpa adanya suatu beban. Tapi suatu kebutuhan suasana positif juga akan membantu menggerakkan moral yang positif bagi murid sehingga karakter murid tidak hanya terbentuk dari akademik/intelektualnya saja tapi juga dari lingkungan yang ada..

Disiplin positif merupakan uatu cara penerapan disiplin tanpa kekerasan dan ancaman. Melibatkan komunikasi tentang perilaku yang efektif antara guru dan murid Murid diajarkan untuk memahami konsekuensi dari prilaku mereka selain itu disiplin positif juga mengajarkan murid tanggung jawab serta rasa hormat dalam berinteraksi dalam lingkungannya. Disiplin posistif merupakan salah satu cara penerapan disiplin yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran serta memberdayaan murid untuk melakukan sesuatu tanpa sogokan, ancaman maupun hukuman. Disiplin positif akan melahirkan nilai-nilai kebajikan.

Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata. Konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)

   

Silahkan simak kegiatan Webinar Komunitas Belajar.id dengan topik Budaya Positif

 

Salah satu pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM) adalah untuk Pelatihan Mandiri yang terdiri banyak topik, diantaranya Merdeka Belajar. Selain topik Merdeka Belajar ada banyak lainnya yaitu
1. Merdeka Belajar

2. Kurikulum Merdeka

3. Perencanaan Pembelajaran

4. Asesmen

5. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

6. Penyesuaian Pembelajaran dengan Kebutuhan dan Kareakteristik Murid

7. Profil Pelajar Pancasila

8. Perencanaan untuk Perbaikan Satuan Pendidikan

9. Disiplin Positif

Selain Pelatihan Mandiri, terdapat juga Asesmen Murid, Perangkat Ajar, Komunitas, Video Inspirasi dan Bukti Karya. Semua kebutuhan guru ada dalam satu platform. Sehingga hal ini memudahkan untuk mempelajari kurikulum baru dan strategi pembelajaran dari sesama rekan.


Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Guru Agama (PAI) se Kabupaten Ogan Komering Ulu melakukan workshop untuk meningkatkan pemahaman dan wawasan bagi guru mengenai pentingnya PMM dan pengelolaan kelas dimana pembelajaran berpihak pada murid. Berikut dokumentasi kegiatan yang dilakukan pada tanggal 27 Agustus 2022..
Powered by Blogger.