Showing posts with label Ekosistem Digital. Show all posts

Transformasi Kelas Kimia: Mengubah Catatan Menjadi Infografis & Video dengan NotebookLM
Oleh Rani Nawang Sari


Pernahkah merasa kesulitan saat menjelaskan konsep kimia yang kompleks—seperti tata nama senyawa karbon atau sifat koligatif larutan—agar terlihat menarik bagi siswa? Sebagai guru Kimia, saya sering berpikir: “Bagaimana cara membuat materi ini tidak hanya dipahami, tapi juga berkesan secara visual?”

Belakangan ini, saya sedang jatuh cinta dengan NotebookLM. Alat berbasis AI dari Google ini benar-benar menjadi "asisten pribadi" saya dalam menyusun bahan ajar yang interaktif.


Mengapa NotebookLM?


Bagi saya, NotebookLM bukan sekadar AI biasa. Ia mampu memahami sumber data yang kita unggah (baik itu PDF buku teks, catatan pribadi, maupun artikel ilmiah) dan mengubahnya menjadi ringkasan yang sangat terstruktur.

Dari ringkasan cerdas inilah, saya melangkah lebih jauh untuk membuat:
  1. Infografis Edukatif: Mengambil poin-poin kunci dari NotebookLM untuk disusun menjadi visualisasi yang cantik dalam infografis.
  2. Video Pembelajaran: Memanfaatkan fitur Audio Overview (Deep Dive) untuk mendapatkan narasi diskusi yang natural dengan gaya bahasa kekinian ala Gen Z, lalu saya padukan dengan elemen visual agar materi lebih hidup.
Langkah Sederhana yang Saya Lakukan:
  • Input Sumber Terpercaya: Saya mengunggah modul ajar atau materi Kimia pilihan yang sebelumnya saya buat dengan Gemini ke NotebookLM.
  • Eksplorasi Ide: Saya bertanya pada AI untuk mencari analogi yang mudah dipahami siswa atau poin-poin yang sering menjadi kesulitan di kelas 12
  • Produksi Visual: Data yang sudah rapi tersebut saya bawa ke platform desain untuk dijadikan konten yang siap dibagikan ke siswa atau diunggah ke media sosial.
Hasilnya di kelas?

Siswa cenderung lebih cepat menangkap konsep saat melihat infografis yang ringkas dibandingkan membaca puluhan halaman teks. Selain itu, video pembelajaran berbasis AI ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda—seperti mendengarkan podcast edukasi yang seru!

Mari kita terus berinovasi. Teknologi bukan untuk menggantikan peran kita sebagai guru, melainkan memperkuat pesan dan kasih sayang yang kita salurkan melalui ilmu pengetahuan.



60 Detik Jadi 100 Sertifikat: Rahasia Efisiensi Guru di Era Digital
Oleh Rani Nawang Sari

Pernahkah Anda merasa waktu produktif Anda habis hanya untuk urusan administrasi? Sebagai pendidik, kita semua pasti pernah merasakannya. Salah satu "momok" yang paling sering menyita waktu adalah saat harus membuat sertifikat untuk puluhan, bahkan ratusan siswa atau peserta pelatihan.

Membayangkan harus menyalin nama satu per satu dari daftar hadir ke desain sertifikat, lalu memeriksa typo (salah ketik) berulang kali... rasanya seperti mimpi buruk!

Namun, dalam webinar Japanesia edisi Maret yang baru saja saya bawakan, saya membagikan sebuah rahasia kecil yang saya sebut sebagai "The 60-Second Certificate". Penasaran bagaimana caranya? Mari kita bedah rahasianya.

buat tema biru seperti slide lainnya

Power Duo: Canva & Google Sheets

Rahasia dari efisiensi ini terletak pada kolaborasi dua aplikasi hebat: Google Sheets dan Canva. Jika Google Sheets adalah "otak" yang menyimpan data, maka Canva adalah "wajah" yang memberikan keindahan visual.

Dengan fitur Bulk Create di Canva, kita tidak perlu lagi bekerja secara manual. Kita cukup menghubungkan data dari spreadsheet langsung ke desain sertifikat.
4 Langkah Ajaib Menuju Efisiensi

Berikut adalah ringkasan langkah-langkah yang saya demonstrasikan dalam webinar kemarin:
  1. Kumpulkan Data Secara Otomatis: Gunakan Google Forms untuk mengumpulkan nama peserta. Biarkan mereka yang mengetik namanya sendiri agar risiko salah ketik berkurang drastis. Unduh hasilnya dalam format CSV.
  2. Siapkan Master Template: Pilih satu desain sertifikat di Canva yang paling mewakili acara Anda. Berikan ruang kosong yang cukup luas untuk kolom nama.
  3. Hubungkan Data (The Mapping): Unggah file CSV Anda ke menu Bulk Create di Canva. Klik kanan pada elemen nama, lalu pilih Connect Data.
  4. Simsalabim! Klik Generate: Dalam hitungan detik, Canva akan membuatkan puluhan halaman sertifikat dengan nama yang berbeda-beda secara otomatis.
Teknologi adalah Alat, Guru adalah Jantungnya

Efisiensi administrasi bukanlah tentang malas bekerja, melainkan tentang mengalokasikan energi kita ke tempat yang tepat. Dengan menghemat waktu di urusan teknis seperti pembuatan sertifikat, kita memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi, memotivasi, dan menginspirasi siswa-siswi kita.

"Technology is the tool, but the teacher is the heart."

Mari kita terus berinovasi untuk pendidikan yang lebih baik!

Apakah Anda sudah mencoba fitur Bulk Create di Canva? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar ya!

Kolaborasi Lintas Daerah: Menjelajahi Masa Depan Pendidikan di Program Sertifikasi Gemini Certified Educator
Oleh Rani Nawang Sari

Dunia pendidikan sedang berada di titik balik yang sangat menarik. Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan rekan strategis bagi kita, para guru, untuk menciptakan pembelajaran yang jauh lebih efisien dan kreatif.

ELP (Google Ed Leadership Program) adalah komunitas kolaboratif yang didukung oleh Google For Education untuk mendukung pemimpin pendidikan, admin IT dan pendidik. Program ini bertujuan mempercepat inovasi, berbagi praktik terbaik, dan meningkatkan dampak teknolohi dalam pengajaran melalui dukungan komunitas dan pertemuan rutin.

Baru-baru ini, saya sebagai ELP Fasilitator Ogan Komering Ulu merasa sangat bangga bisa terlibat dalam sebuah inisiatif luar biasa: Program Sertifikasi Google Gemini Certified Educator


Kekuatan Kolaborasi Lintas Daerah

Acara ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini adalah hasil kolaborasi spesial dari para Fasilitator Google ELP (Ed Leadership Program) lintas daerah di Sumatera Selatan, meliputi: OKU Lubuk Linggau, Muratara, Musi Rawas, OKI, dan Ogan Ilir.

Didampingi langsung oleh Bapak Kristiyanto dari Digital Transformation, kami bersama-sama mengeksplorasi bagaimana ekosistem Google Gemini dapat membantu tugas keseharian pendidik. Sesi yang dibuka pada 13 Februari 2026 lalu ini membuktikan bahwa jarak geografis bukan penghalang untuk saling berbagi ilmu. 

Kegiatan ini dilaksanakan dua hari tanggal 13 - 14 Februari 2026 dengan tujuan para peserta memahami bagaimana Gemini dan NotebookLM bisa menjadi mitra kolaboratif dalam memberikan ide, gagasan juga menjadikan pekerjaan kita lebih efektif dan efisien. 

Hal luar biasa dari kegiatan ini adalah selain guru peserta juga berasal dari Dosen dan Widyaiswara BGTK. Sehingga kegiatan ini menjadi luar biasa semarak dengan diskusi dan sharing pengalaman. Pada setelah mengikuti sesi materi Gemini dan NotebookLM selama dua hari para peserta melakukan ujian sertifikasi Gemini secara mandiri. Hasilnya luar biasa, para peserta melaporkan kelulusan mereka di grup. Hal ini membuat saya bangga.

Mari Terus Bertransformasi

Sertifikat Gemini Certified Educator yang kami kejar dalam program ini adalah simbol komitmen kita untuk terus relevan di era digital.

Bagi rekan-rekan yang kemarin belum sempat bergabung, jangan berkecil hati. Mari terus pantau update di blog ini dan komunitas kita. Teknologi ada untuk memudahkan kita, bukan untuk menggantikan esensi kita sebagai pendidik yang penuh empati.

Sampai jumpa di inovasi berikutnya!


From East OKU for Indonesia: Building an Innovation Mindset Amidst Signal Limitations


The digitization of education is not just about how sophisticated our devices are or how fast our school's internet connection is. Vice principal of Curriculum at SMAN 2 Ogan Komering Ulu, I realize that the biggest challenge in digital transformation often boils down to one thing: mindset.





Recently, I had the honor of accompanying my wonderful fellow teachers from the Google Reference School Candidate (KSRG) in East OKU Regency in the Google Certified Educators Level-1 training. There, I saw a reflection of the same challenges we face in OKU—hesitation and intimidation towards technology due to infrastructure constraints. East OKU is known as a major food basket. This region was formed from the division of Ogan Komering Ulu Regency and is the center of the Komering tribe's civilization, with its leading sectors being rice, rubber, and palm oil farming. This has made its residents prosperous. However, internet connectivity is not evenly distributed throughout the region. There are several areas that experience limited internet connectivity.

During the session, I shared my real-life experience of how we at SMAN 2 OKU kept the digital ecosystem alive despite frequent internet signal interruptions. The strategies I implemented focused on:
  1. Confidence Before Tools: Before getting into the technical aspects, teachers must believe that technology is a bridge for students, not an additional burden for educators.
  2. Adaptive Learning: Optimizing Google Workspace features in low-bandwidth conditions so that collaborative learning does not stop when the connection is lost.

Some teachers initially felt unsure about their ability to complete this activity. In addition to internet connectivity issues, their lack of technological skills made them feel inferior. But one thing that made me proud was their unyielding spirit to keep learning, which motivated them to keep trying. The discussion sessions were interesting, as everyone shared their experiences and solutions. Their worries disappeared during the discussion sessions. It was as if the burden they had been carrying was lifted.

After these face-to-face sessions ended, online sessions were held to monitor the extent to which technology had been implemented in the classroom. What new challenges were encountered and how were innovations made to overcome them? The results were extraordinary. Teachers in East OKU began to shift from saying, “It's impossible to do here,” to “How can we make it work?” This enthusiasm is evident in the increasing number of teachers who are now eager to pursue Google Certified Educator Level 1 certification.

Looking back, I learned that innovation moves faster when we build a culture of peer mentorship. This is the mission I want to take further through the Google Certified Innovator program.
We must ensure that no student or teacher feels “left behind” simply because of their geographical location. Let's continue to innovate and go beyond signal limits!

 

Transformasi Pendidikan di Universitas Baturaja: Membekali Dosen dan Tendik dengan Keahlian AI melalui Gemini Academy

Dunia pendidikan tinggi kini memasuki babak baru dengan hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI). Sebagai bagian dari komitmen untuk terus mendorong literasi digital, saya merasa sangat terhormat dapat berkontribusi dalam kegiatan "Program Pelatihan dan Sertifikasi Gemini Certified Educators untuk Dosen dan Tenaga Kependidikan Universitas Baturaja".



Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Unbara pada 29 Januari 2026 ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan langkah nyata Universitas Baturaja dalam mengadopsi teknologi untuk memperkuat kualitas pengajaran dan efisiensi kerja di lingkungan kampus.

Dalam sesi ini, saya tidak sendirian. Saya berkesempatan berbagi panggung dan berkolaborasi dengan para pakar hebat di bidangnya yaitu Tresna Agustian Suryana (Google Project Specialist), Hizkia Sasangka Jati (Google Certified Trainer) dan saya Rani Nawang Sari (Google Certified Trainer)

Satu hal menarik yang saya tekankan dalam sesi saya adalah "Praktik Baik Prompting". Di hadapan para Dosen dan Tendik Unbara, kami membedah bagaimana cara berkomunikasi secara efektif dengan AI. Salah satunya dengan membuat prompt yang tepat agar hasil yang diberikan sesuai harapan.

AI seperti Gemini bukan hanya alat untuk mencari jawaban, tetapi mitra kolaboratif. Dengan prompting (perintah) yang tepat, dosen dapat:

  • Menyusun modul ajar yang lebih adaptif dan interaktif.

  • Mengefisiensikan tugas-tugas administratif akademik.

  • Membantu riset dengan pemetaan literatur yang lebih cerdas.

Suasana di Auditorium Unbara sangat semarak. Para peserta terlihat sangat antusias mencoba langsung fitur-fitur Gemini Academy di perangkat mereka masing-masing. Diskusi mengalir hangat saat kami membahas bagaimana AI dapat diintegrasikan tanpa menghilangkan esensi integritas akademik.

Bagi saya pribadi, melihat semangat transformasi digital di Unbara memberikan inspirasi tersendiri. Ini membuktikan bahwa institusi pendidikan tinggi di daerah kita siap bersaing di kancah global dengan memanfaatkan teknologi masa depan.

Transformasi bukan tentang menggantikan manusia dengan mesin, melainkan memberdayakan manusia dengan alat yang tepat. Terima kasih kepada Universitas Baturaja atas kepercayaan dan keramahannya. Mari kita terus belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama AI!

Sampai jumpa di inovasi pendidikan selanjutnya!

Mendengar Suara dari Ujung OKU Selatan: Mengapa Literasi Digital adalah Hak, Bukan Kemewahan
Oleh: Rani Nawang Sari


Saya merasa sangat bahagia bisa kembali berbagi di sini. Kali ini, saya ingin mengajak rekan-rekan menyelami sebuah konsep yang sedang hangat dalam dunia pendidikan: Implementasi Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam Pembelajaran di Kelas.




Sebagai pendidik, kita harus memahami bahwa Deep Learning secara kurikulum menuntut murid untuk tidak sekadar menghafal, tetapi mampu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang mereka pelajari. Di era ini, pembelajaran mendalam tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Mengapa? Karena teknologi mampu menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, personal, dan kontekstual. Teknologi adalah katalisator yang mengubah metode tradisional menjadi pengalaman yang lebih bermakna.

Kolaborasi Tanpa Batas dengan Google Workspace
Salah satu alat yang paling mumpuni untuk mendukung Deep Learning adalah Google Workspace for Education. Dengan dukungan akun belajar.id yang sudah tersedia bagi guru dan murid, kolaborasi dalam domain yang sama menjadi sangat mudah—baik itu antar-murid, antar-guru, maupun interaksi guru-murid.

Namun, teori seringkali berbenturan dengan realitas di lapangan.

Ujian Nyata: Diesel, Mati Listrik, dan Semangat yang Tak Padam
Kejadian menarik terjadi saat saya mendemonstrasikan kolaborasi menggunakan Google Docs di SMAN 1 Ranau Selatan, Kabupaten OKU Selatan. Di luar prediksi, listrik padam. Mesin diesel segera dinyalakan sebagai energi alternatif, namun tantangan berikutnya muncul: kualitas sinyal internet merosot tajam.

Tanpa membuang waktu, saya memutuskan untuk beralih menggunakan fitur Google Docs secara Offline. Saat diskusi mengenai fitur offline sedang berlangsung, koneksi internet benar-benar hilang total. Saya baru menyadari bahwa di daerah ini, jika listrik padam lebih dari satu jam, sinyal internet akan ikut menghilang. Bahkan, masyarakat setempat sudah terbiasa menghadapi mati listrik hingga berhari-hari.

Modifikasi sebagai Kunci Inovasi

Melihat kondisi ini, penerapan teknologi dalam Deep Learning yang seharusnya berjalan online dan interaktif tidak bisa dilakukan tanpa modifikasi. Saya melihat betapa hebatnya para guru di sana melakukan berbagai siasat agar pembelajaran tetap berjalan di tengah musim mati listrik.

Pengalaman di OKU Selatan ini mempertegas keyakinan saya: Literasi digital bagi murid adalah hak, bukan barang mewah yang ikut padam saat listrik mati. Tugas kita sebagai pemimpin pembelajaran adalah memastikan bahwa setiap murid, di ujung daerah manapun, tetap mendapatkan haknya untuk mengakses masa depan melalui teknologi—apa pun tantangannya.

Sinyal Putus, Ide Terus: Trik Kolaborasi Google Docs Saat Internet Tidak Bersahabat
Oleh: Rani Nawang Sari


Pernahkah Ibu dan Bapak Guru sedang asyik mendampingi siswa berkolaborasi di Google Docs, lalu tiba-tiba indikator sinyal di pojok layar hilang? Di daerah saya mati lampu atau gangguan sinyal adalah makanan sehari-hari yang sering kali memutus momentum belajar siswa.



Namun, keterbatasan infrastruktur bukan berarti kolaborasi digital harus berhenti. Sebagai pendidik, kita harus selangkah lebih maju dari kendala teknis. Berikut adalah panduan praktis untuk memastikan ide siswa tetap mengalir meskipun internet sedang "merajuk".

1. Persiapan: Aktifkan Mode Offline Sekarang!

Langkah paling krusial adalah persiapan saat internet masih stabil. Jangan menunggu sinyal hilang untuk melakukan ini:
  • Buka Google Drive: Klik ikon gerigi (Setelan) di pojok kanan atas.
  • Centang Kotak Offline: Cari opsi "Offline" dan centang bagian "Buat, buka, dan edit file Google Dokumen, Spreadsheet, dan Slide terbaru di perangkat ini saat offline".
  • Pastikan Ekstensi Terpasang: Pastikan Google Chrome Mbak sudah memiliki ekstensi "Google Docs Offline".

2. Strategi Kolaborasi Kelompok Saat Offline

Bagaimana jika sedang kerja kelompok lalu sinyal putus? Inilah triknya agar momentum tidak hilang:
  • Simpan Secara Lokal Otomatis: Saat fitur offline aktif, siswa bisa terus mengetik di Google Docs mereka masing-masing meskipun ikon awan menunjukkan tanda silang.
  • Sinkronisasi Otomatis: Ingatkan siswa untuk tidak menutup tab browser mereka. Begitu sinyal kembali atau diesel sekolah menyala dan internet tersambung, Google akan otomatis menyelaraskan (sync) semua perubahan yang dibuat saat offline ke dalam dokumen utama.
  • Manajemen Tugas: Dalam kondisi internet tidak stabil, bagi tugas kelompok menjadi bagian-bagian kecil. Siswa fokus mengerjakan bagiannya secara offline, dan mereka akan "bertemu" kembali di dokumen digital saat koneksi pulih.

3. Mengapa Ini Penting bagi Kurikulum Kita?

Dalam konsep Deep Learning, refleksi dan aplikasi ilmu tidak boleh terhambat oleh teknis. Dengan menguasai fitur offline, kita memberikan kepastian kepada murid bahwa hasil pemikiran mereka aman dan akan tersimpan.

Literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan internet cepat, tapi soal bagaimana kita tetap produktif dalam keterbatasan. Mari kita pastikan bahwa di sekolah kita, sinyal boleh putus, tapi ide harus tetap jalan terus!








Konco Batik Nusantara merupakan webinar berseries kolaborasi antara Sahabat Teknologi dari beberapa provinsi. Konco Batik Nusantara merupakan akronim dari Kolaborasi Co-Kapten Berbagi Praktik Baik Se-nusantara 10 Co-Kapten belajar.id yang juga merupakan Sahabat Teknologi 2023 dengan Bapak Asep Yuyun Sahabat Teknologi dari Jakarta Barat sebagai ketua. Kegiatan webinar ini dilakukan dari tanggal 16 - 18 Oktober 2023. Pada Sesi 1 dilakukan tanggal 16 Oktober 2023 dengan narasumber bapak Asep Yuyun, Ibu Era Delvia Sari (Sahabat Teknologi Provinsi Jambi) dan Bapak Randy Oktari (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan). Kegiatan ini dibuka oleh PLT DIrektur SMP Kemendikbud Ristek Bapak drs. I Nyoman Rudi Kurniawas, M.T. Untuk sesi 2 dilaksanakan tanggal 17 Oktober 2023 dengan narasumber Bapak Dian Perdana Putra (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan), Ibu Lia Nurmala (Sahabat Teknologi Maluku Utara) dan bapak Beny Hidayar (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan).

Saya menjadi narasumber di sesi 3 bersama bapak Febri Sulih Pambudi (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan), Novia Ayu Lestari (Sahabat Teknologi Bengkulu), Fadhli Oni Raharjo (Sahabat Teknologi Bengkulu). Webinar ini dilakukan tanggal 18 Oktober 2023. Webinar ini diwarnai dengan kondisi mati lampu di rumah bapak Febri Sulih Pambudi dan pak Fadhil. Sehingga untuk share screen materi pemaparan dibantu oleh moderator ibu Lia Nurmala. Alhamdulilaah dengan komunikasi dan kolaborasi yang baik antara narasumber dan moderator kegiatan webinar ini berlangsung lancar.
Berikut rekaman Konco Batik Nusantara Seri 3.


Daftar hadir dan umpan balik


    

SMAN 2 Ogan Komering Ulu berada 30 Km dari pusat Kabupaten Ogan Komering Ulu. Memiliki penduduk dengan latar belakang petani karet. 50% siswa setiap hari membantu orang tua menyadap atau memulung getah karet, sehingga keseharian dekat dengan pengolahan karet. Kurikulum yang berlaku adalah kurikulum merdeka. Sehingga proses pembelajaran harus mengakomodir kodrat alam dan zaman siswa. Situasi lainnya yaitu setiap siswa memiliki gawai dan koneksi internet yang memadai. 



Pada mata pelajaran Kimia, motivasi siswa rendah, tetapi siswa suka sekali mengeksplore gawai. Baik itu bermain sosial media maupun game. Selain itu siswa menganggap kimia sulit dan materi metode ilmiah membosankan. Inilah yang memunculkan tantangan buat saya. Bagaimana meningkatkan motivasi siswa dan pembelajaran kimia menyenangkan?

Hal yang saya lakukan untuk mengatasi hal ini adalah berselancar di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Mencari praktik baik rekan-rekan guru yang mempunyai kendala serupa. Selain itu saya juga mengikuti pelatihan mandiri yang ada di PMM untuk lebih memahami bagaimana kurikulum merdeka dan penerapannya di kelas. Setelah itu saya memutuskan menggunakan metode Projek Based Learning dengan pendekatan kontekstual menggunakan STEAM mengeksplore keseharian siswa mengolah getah karet, dengan pendekatan teknologi untuk sarana pmberian tugas, pengumpulan tugas (Classroom) dan format pelaporan (Canva) memanfaatkan akun belajar.id.

Awalnya saya memberikan apersepsi kepada siswa bagaimana cara untuk membuat getah karet cepat beku disaat musim hujan? Disini siswa memberikan banyak tips yang biasa mereka lakukan dari memberi larutan tawas, pupuk TSP, cuka, dan banyak tips lainnya. Pada prinsipnya mereka sudah memahami cara mengatasi permasalahan yang ada. Tetapi saat ditanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk getah karet membeku, siswa diam. Mereka tidak bisa memberika jawaban pasti. Setelah mengajukan pertanyaan pemantik saya mengajak siswa untuk membuat projek untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat getah karet membeku dengan adanya zat tambahan yang biasa mereka gunakan. Saya membagi siswa dalam kelompok kecil (4-5 orang) dan membiarkan siswa mendesain projeknya sendiri. Menentukn waktu yang akan merek gunakan dan melaporkan petkembangan projeknya sehingga saya bisa memantau pekerjaan siswa. Setelah selesai semua, siswa membuat laporan projek dalam bentuk infografis yang dibuat dengan menggunakan canva for education yang diakses dengan akun belajar.id. Sebagai tempat pengumpulan tugas dan pemberian materi serta penguatan saya menggunakan Google Classroom.

Setelah melakukan proses pembelajaran Anak-anak termotivasi untuk mengerjakan projek karena merupakan kegiatan yang dekat dengan keseharian mereka. Sehingga terbentuk pola berfikir ilmiah dari peristiwa yang ditemui di lingkungan rumah (kontekstual). Menggunakan Projek Based Learning siswa terbiasa berfikir kritis dan berkolaborasi dalam kelompok berkembang sesuai harapan bahkan untuk beberapa siswa sangat pesat. Melalui pendekatan STEAM yang diterapkan siswa juga dapat menerapkan seni dalam tugas yaitu laporan projek dalam bentuk infografis/poster yang di desain dengan canva. Hal ini membuat siswa dekat dengan teknologi sehingga kodrat aman terpenuhi. Hingga akhirnya hasil belajar siswa juga meningkat.


Berikut Modul Ajar Profilatek


MODUL AJAR oleh Rani Nawang Sari

Berikut Testimoni dari siswa setelah mengikuti proses pembelajaran PROFILATEK


testi siswa oleh Rani Nawang Sari

Video narasi pengalaman pribadi dalam merancang dan mengimplementasikan model pembelajaran inovatif berbasis TIK yang berpusat pada murid dan bersifat kolaboratif dengan memanfaatkan Platform Teknologi. Juga memuat dokumentasi berbagi praktik baik implementasi inovasi pembelajaran yang dilakukan secara tatap maya dan atau tatap muka. 

“Menguatkan Ekosistem Digital Pendidikan dengan Berkarya dan Berbagi untuk Wujudkan Merdeka Belajar”.
#BLPTKemendikbudristek #MerdekaBelajar #PembaTIK2023 #SahabatTeknologiKemendikbudristek #PlatformMerdekaMengajar 


Webinar SMART-ID (Strategi Mendukung Adopsi Pembelajaran Berdiferensiasi ini dilaksanakan sesuai jadwal yaitu hari Selasa 17 Oktober 2023. Kegiatan ini dilakukan melalui Komunitas Belajar PMM "Sahabat PembaTIK". Pembicara pada webinar merupakan kolaborasi dari tiga Sahabat Teknologi yaitu Randy Oktari (Sahabat teknologi OKU Selatan), Rani Nawang Sari (Sahabat Teknologi OKU) dan Febri Sulih Pambudi (Sahabat Teknologi dari Musi Rawas Utara). Webinar ini dibuka oleh Kepala Balai Guru Penggerak Sumatra Selatan ibu Dra. Ohorella Erma, M.Ikom. Pada kesempetan ini beliau berpesan untuk menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi kepada anak agar bisa mengakomodir potensi yang berbeda-beda dari mereka.


Sebagai pembicara pertama Rani Nawang Sari dengan praktik baiknya PROFILATEK (Project Based Learning Lateks dengan Teknologi). Disini bu Rani memaparkan praktik baik yang dilakukan dengan melakukan metode Projek Based Learning pada pembelajaran Kimia dengan pendekatan kontekstual dan STEAM. Dimana tugas anak disampaikan melalui googel Classroom dan laporan projek dibuat dalam bentuk infografis/poster menggunakan canva for education yang memanfaatkan akun belajar.id. Selanjutnya Bapak Febri Sulih Pambudi mendapatkan giliran kedua menyampaikan praktik baik Pembelajaran Kimia Menarik dan Berdifferensiasi dengan TIK. Beliau membagikan praktik baik pembuatan microsite dengan menggunakan Google slide yang memanfaatkan akun belajar.id. Pada bagian akhir bapak Randy Oktari menyampaikan praktik baik yang berjudul BERBATIK MAPAN (Pembelajaran Bahasa INGGRIS berbasis TIK dengan MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF menyenangkan dan ramah jaringan).

Setelah sesi pemaparan praktik baik, dibuka sesi tanya jawab. Peserta terlihat antusias dan mengajukan beberapa pertanyaan. Antara lain pertanyaan dari Bapak Wisnu Nata bagaimana membuka file yang didownload melalui chromebook agar dapat dibuka dengan aplikasi Ms Word. Lalu Saya menjawab bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan karena Chromebook memiliki Google Docs yang sudah terintegrasi. Sedangkan Ms Word tidak terintegrasi dengan Chromebook. Sehingga bapak Wisnu Nata cukup membuka file dari chromebook dan membiasakan diri dengan google docs baik secara online maupun offline.

Berikut video berbagi praktik baik dalam Webinar SMART-ID



DOKUMENTASI KEGIATAN






DAFTAR HADIR KEGIATAN


Mengajar Pakai Teknologi? Gimana Bisa? Sinyal Aja Ga Ada?

Situ enak sekolahnya fasilitas lengkap, sinyal kenceng. Lha saya?

Di tempat kami tidak ada sinyal, jadi ga bisa pakai aplikasi seperti yang lain?

Saya sudah nyaman mengajar seperti ini, anak-anak juga tidak masalah. Kenapa harus repot-repot?

Kalimat-kalimat diatas sering kali saya jumpai saat saya mengajar rekan-rekan guru mengajar menggunakan teknologi. Atau istilah saya "MARI MENGETIK" Mari Mengajar Terintegrasi TIK. Penolakan, rasa putus asa, terkesan tidak perduli dengan apa itu teknologi dan penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas. Padahal sejatinya teknologi akan membantu kita dalam proses pembelajaran, akan lebih efektif dan efisien. 

Menurut Profesor Richardus Eko Indrajit, guru yang berhenti belajar pada hakikatnya telah berhenti menjadi guru. Karena sejatinya guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Tentu pernyataan ini adalah suatu hal yang menohok atas profesi kita sebagai seorang guru. Dimana kita harus selalu belajar dan belajar sepanjang hayat. Mempelajari perkembangan inovasi baru dalam pembelajaran di kelas termasuk didalamnya teknologi. Bagaimanapun peran guru tidak akan bisa dan pernah tergantikan oleh teknologi sampai kapanpun. Mengapa? karena teknologi tidak bisa memberikan inovasi, aspirasi, inspirasi, sosok figur yang akan dikenal oleh sang murid. Tetapi apabila guru tidak memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran maka hanya tinggal menungu waktu dia akan tergantikan.



Mengatasi masalah ketiadaan sinyal dan fasilitas yang ada, ini adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Sebagai seorang guru kita harus bisa menaklukkan tantangan itu. Saat tatap muka terbatas dimulai, salah satu kelas yang saya ajar, sebagian besar murid bertempat tinggal di daerah yang sulit sinyal walau mereka mempunyai ponsel pintar. Untuk akses internet harus mencari ketempat yang jauh atau memanjat pohon yang tinggi. Konsidi ini harus diatasi agar siswa bisa belajar dengan nyaman. 

Saya menyiapkan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) agar siswa bisa membukanya dirumah berulang kali tanpa hawatir kualitas sinyal. Saat murid jadwal datang tatap muka di sekolah, maka saat itulah saya membagikan MPI melalui bloothoth, atau share it agarmurid bisa mengunduh MPI dalam bentuk apk tanpa harus menggunakan internet. Pada akhirnya murid bisa membuka ulang dirumah untuk dipelajari dan dipahami. Murid senang, pekerjaan guru menjadi ringan, teknologi selalu membantu menyelesaikan tantangan. 


Jalan-jalan kepasar batik
Jangan lupa membeli bakpia pathuk
Tahun ini berlayar di Pembatik
Mengajak rekan Mari MengeTIK

Mari MengeTIK
Mari Mengajar terintegrasi TIK
Ayo kita hadirkan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan murid.
Murid lahir dengan kodrat alam dan zaman. Jadi pahami kodrat alam murid, integrasikan pembelajaran dengan kodrat zaman murid. 

Ada banyak cara untuk memahami kodrat alam murid. Dengan melakukan wawancara, pengisian quisioner, pengamatan lingkungan, dan masih banyak cara lainnya. Hal ini akan menjadi salah satu pertimbangan dalam mendesain proses pembelajaran di kelas. Sehingga kita sebagai guru akan bisa menghadirkan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan murid. 

Kodrat zaman juga tidak boleh luput dari perhatian. Kita harus mampu membimbing murid agar dapat berdaya upaya sendiri atas dirinya sendiri. Oleh karena itu harus dipersiapkan untuk menghadapi lingkungan masyarakat. Zaman saat ini yang serba canggih dan digital maka kita harus siap memberi bekal murid dalam hal teknologi. Selain keterampilan lainnya seperti kolaborasi, berfikir kritis, berfikir kreatif, dan komunikasi. 

Oleh sebab itu semua Mari MengeTIK. Mari kita mengajar dengan mengintegrasikan TIK pada prosesnya, Kontennya juga produknya. Agar murid terbiasa berada dalam ekosistem digital, sehingga lebih mudah beradaptasi dalam masyarakat kelak. 

==Mari MengeTIK==

Berbagi di SD IT Global Batumarta merupakan suatu pengalaman tersendiri. Disini saya berbagi dengan tema Berdiferensiasi dengan Rumah Belajar. Banyak pengalaman seru saat berbagi. Hal yang luar biasa adalah beberapa guru di sekolah ini adalah murid saya. Ya, mereka adalah murid saya saat dibangku SMA. Saat ini mereka adalah mitra dan rekan sejawat dalam mengajar. Sungguh luar biasa. Ada rasa senang dan bangga saat mereka begitu semangat untuk menambah wawasan dan pengalaman. Binar mata penuh antusias sungguh merupakan suatu hal yang tidak ternilai. 



Banyak hal yang saya peroleh dari kegiatan kali ini. Bagaimana mereka dengan fasilitas yang ada berusaha untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Bagaimana mereka mengutamakan karakter siswa diantara lainnya. Saya banyak berefleksi dari kegiatan berbagi kali ini. Salah satunya yaitu hasil asesmen dan pengamatan terhadap peserta didik di dapati beberapa siswa memiliki keistimewaan sehingga dalam proses pembelajarannya harus mengerahkan ilmu pendidikan inklusif. 

Silahkan disimak dokumentasi kegiatan berbagi dengan tema "Berdiferensiasi dengan Rumah Belajar"

Pembelajaran berdiferensiasi bisa dilakukan dengan memanfaatkan Rumah Belajar dalam mewujudkan Ekosistem Digital. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam persiapan belajar murid sebelum memulai pembelajaran yaitu
  1. Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru.
  2. Minat belajar merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.
  3. Profil pelajar merupakan bagaimana murid paling baik untuk belajar.


Mengakomodir pembelajaran berdiferensiasi ini ada tiga strategi yang bisa dilakukan yaitu
  1. Diferensiasi konten
  2. Diferensiasi proses
  3. Diferensiasi produk
Rumah Belajar memiliki berbagai fitur yang bisa digunakan dalam mendukung pembelajaran berdifernsiasi antara lain sumber belajar, edugame, augmented reality, laboratorium maya dan banyak lainnya. Pada sumber belajar murid bisa mendapatkan madia pembelajaran dalam bentuk video, web, multimedia pembelajaran interaktif dan audio. Edugame menawarkan game edukasi yang cocok digunakan sebagai media siswa kinestetik dan juga disukai oleh banyak murid. Untuk augmented reality siswa mendapatkan pengalaman melihat bentuk asli dari materi yang dipelajari, murid visual sangat menyukai media ini. 

Pada pembelajaran asam basa saya menyiapkan satu link microsite yang memuat kumpulan materi yang dibutuhkan murid. Pemilihan microsite ini karena dekat dengan murid saat mereka berselancar di sosial media atau belanja online mereka sering menemukan microsite ini. Setelah proses pembelajaran berakhir, siswa diminta tagihan tugas-tugas dalam bentuk portofolio digital. Sehingga murid dekat dengan teknologi. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan ekosistem digital sekolah. Cukup satu link dapat membuka semua tagihan murid. Disamping itu keterampilan literasi digital murid meningkat.

Awal pembelajaran saya membuka pembelajaran, memberikan pertanyaan pemantik kepada murid untuk memancing rasa ingin tahu. Kemudian saya memberikan media pembelajaran dalam bentuk microsite untuk selanjutnya murid menggali informasi dari berbagai bentuk yang bisa dipilih, yaitu video pembelajaran, multimedia pembelajaran interaktif, dan emodul. Diferensiasi konten dilakukan pada tahapan ini. Setelah menggali informasi murid menyelesaikan masalah yang dihadapi pada LKPD dengan dipadu dengan edugame agar siswa lebih merasa tertantang dan mengakomodir gaya belajar murid. Dibagian penutup untuk tagihan projek murid diminta untuk membuat Google Site sebagai portofolio digital berisi kumpulan tugas murid pada materi asam basa (Larutan asam basa, larutan penyangga, hidrolisis garam). Bagian ini merupakan bagian dari usaha saya dalam menghadirkan ekosistem digital sekolah. 

Mohon umpan balik untuk praktik baik ini di PMM dengan link https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/video/143453

Berikut adalah video dokumentasi kegiatan praktik baik pembelajaran berdiferensiasi memanfaatkan Rumah Belajar Wujudkan Ekosistem Digital. Silahkan disimak.


Kali ini Komunitas Smanda Belajar berkolaborasi dengan Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat dalam suatu webinar dengan tema "Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK". Komunitas Smanda Belajar membuat webinar di PMM dengan link yang sama dengan Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat. Sehingga kedua anggota komunitas dapat berbagi pengalaman dan praktik baik.





Komunitas Belajar adalah sekelompok guru, tenaga kependidikan, dan pendidik lainnya yang memiliki semangat dan kepedulian yang sama terhadap transformasi pembelajaran melalui interaksi secara rutin dalam wadah di mana mereka berpartisipasi aktif. Adapun manfaat dari komunitas belajar ini adalah memfasilitasi belajar bersama tentang Kurikulum Merdeka, memfasilitasi diskusi pemecahan masalah sekaligus berbagi praktik baik Kurikulum Merdeka, memfasilitasi kolaborasi pengembangan perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka dan memfasilitasi refleksi pembelajaran rekan sejawat. Apabila ingin mendaftar Komunitas Belajar bisa dilakukan di Platform Merdeka Mengajar dengan syarat pengurus sudah menyelesaikan minimal satu topik Pelatihan Mandiri.

Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK yang diangkat kali ini adalah Praktikum Virtual Enzim Katalase Memanfaatkan Fitur Laboratorium Maya dari Portal Rumah Belajar oleh Pak Rahmat Effendi dari Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat dan Implementasi Rumah Belajar dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Wujudkan Ekosistem Digital oleh Ibu Rani Nawang Sari dari Komunitas Smanda Belajar. 

Pada saat webinar berlangsung ternyata banyak peserta diluar komunitas juga ikut bergabung, seperti dari Jombang, Sumatra Barat, Pontianak, Banjarnegara. Sehingga makin seru sharing dan diskusi yang terjadi. Hal ini disebabkan pengalaman dan temuan yang berbeda dari masing-masing peserta serta saling refleksi pembelajaran yang telah dilakukan. Kegiatan webinar bisa disaksikan pada video berikut

Referensi: Materi “Komunitas Belajar” dari Bimbingan Teknis Penguatan IKM di Tangerang, pada 13 - 16 Juni 2022



 

Banyak rekan-rekan guru yang bingung dengan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) yang saat ini sedang berjalan. Ada beberapa sekolah ternyata masuk kategori IKM Mandiri Belajar. Tetapi tidak sedikit yang menjalankan Kurikulum Merdeka karena masuk dalam kategori IKM Mandiri Berubah. Keresahan dan kebingungan itu makin bertambah karena Kementrian Pendidikan tidak menyelenggarakan pelatihan sebagaimana dilakukan saat awal pelaksanaaan Kurikulum 2013. Ada beberapa guru terpilih yang kemudian menjadi Instruktur Kabupaten atau Instruktur Nasional. Mereka bertugas menjadi narasumber dan melakukan pelatihan bagi guru-guru untuk pelaksanaan Kurikulum 2013.

Berbeda dengan IKM ini, Kementrian Pendidikan tidak melakukan pemilihan instruktur baik nasional maupun kabupaten, juga tidak melakukan pelatihan. Guru diminta untuk belajar mandiri. Tentu ini hal yang baru bagi sebagian besar guru. Kebingungan mulai melanda. Tidak tau harus mulai dari mana, apa yang harus dilakukan.

Ternyata Kementrian Pendidikan sudah mengantisipasi dan menyiapkan semuanya untuk menjawab kebingungan dan kegalauan para guru. Platform Merdeka Mengajar (PMM) hadir untuk hal itu. PMM merupakan suatu paket komplit untuk memenuhi kebutuhan guru. Didalamnya guru dapat mengajar, belajar dan berkarya. Ada beberapa fitur untuk hal itu. Silahkan klik PMM 

 

Pelatihan Mandiri dalam PMM dibuat untuk guru belajar secara mandiri dan fleksibel. Dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Ada beberapa topik ditampilkan terkait IKM seperti Merdeka Belajar, Kurikulum Merdeka dan banyak lainnya. Materi disajikan dengan sederhana dan mudah diakses. Terdapat video singkat dengan tampilan menarik dan mudah dicerna terkait topik pelatihan. Ada pula refleksi dan posttest untuk mereview pemahaman guru terhadap materi. Setelah unggah aksi nyata dan divalidasi maka guru akan mendapat sertifikat.

Hal ini saya sampaikan kepada para guru SD yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru Gugus III Dewantara Kec. Lubuk Raja Kab. Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatra Selatan 16 Agustus 2022. Berikut dokumentasi kegiatan.


 
Powered by Blogger.