Digitalisasi pendidikan bukan sekadar tentang seberapa canggih perangkat yang kita miliki atau seberapa kencang koneksi internet di sekolah kita. Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMAN 2 Ogan Komering Ulu, saya menyadari bahwa tantangan terbesar dalam transformasi digital seringkali bermuara pada satu hal: Mindset.
Baru-baru ini, saya mendapatkan kehormatan untuk mendampingi rekan-rekan guru hebat dari Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) di Kabupaten OKU Timur dalam pelatihan Google Certified Educators Level-1. Di sana, saya melihat cerminan tantangan yang sama dengan yang kami hadapi di OKU—rasa bimbang dan intimidasi terhadap teknologi karena kendala infrastruktur. OKU Timur dikenal sebagai lumbung pangan utama, wilayah ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ulu dan pusat peradaban Suku Komering, dengan sektor unggulan berupa pertanian padi, karet, dan kelapa sawit. Hal ini membuat penduduknya makmur. Tetapi untuk koneksi internet tidak tersebar merata di seluruh wilayah. Ada beberapa yang mengalami keterbatasan koneksi internet.
Dalam sesi tersebut, saya membagikan pengalaman nyata bagaimana kami di SMAN 2 OKU tetap menjaga ekosistem digital tetap hidup meskipun sinyal internet sering terputus-putus. Strategi yang saya terapkan fokus pada:
Confidence Before Tools: Sebelum menyentuh teknis, guru harus percaya bahwa teknologi adalah jembatan bagi murid, bukan beban tambahan bagi pendidik.
Adaptive Learning: Mengoptimalkan fitur Google Workspace dalam kondisi low-bandwidth agar pembelajaran kolaboratif tidak terhenti saat koneksi hilang.
Beberapa guru awalnya merasa tidak percaya diri untuk bisa menyelesaikan kegiatan ini. Selain koneksi internet, gagap teknologi membuat mereka menjadi rendah diri. Tapi satu hal yang membuat saya bangga adalah semangat pantang menyerah untuk terus belajar membuat mereka mau untuk terus berusaha. Sesi diskusi menjadi ajang yang menarik, karena semua pengalaman dan solusi tercurah disini. Kehawatiran menjadi hilang saat sesi diskusi hadir. Seolah-olah beban yang ditanggung selama ini berkurang.
Setelah sesi tatap muka ini berakhir dilanjutkan sesi online yang dilakukan untuk memantau sejauh mana penerapan teknologi sudah dilakukan di ruang kelas. Tantangan baru apa yang ditemui dan bagaimana inovasi yang dilakukan untuk mengatasinya. Hasilnya sangat luar biasa. Para guru di OKU Timur mulai bergeser dari kalimat "Tidak mungkin dilakukan di sini" menjadi "Bagaimana cara kita membuatnya berhasil?". Semangat ini terbukti dengan meningkatnya jumlah guru yang kini bersemangat mengejar sertifikasi Google Certified Educator Level 1.
Melihat ke belakang, saya belajar bahwa inovasi akan bergerak lebih cepat jika kita membangun budaya saling membimbing (peer-mentorship). Inilah misi yang ingin saya bawa lebih jauh melalui program Google Certified Innovator.
Kita harus memastikan bahwa tidak ada satu pun murid atau guru yang merasa "tertinggal" hanya karena lokasi geografis mereka. Mari terus berinovasi, melampaui batas sinyal!
Mendengar Suara dari Ujung OKU Selatan: Mengapa Literasi Digital adalah Hak, Bukan Kemewahan
Oleh: Rani Nawang Sari
Saya merasa sangat bahagia bisa kembali berbagi di sini. Kali ini, saya ingin mengajak rekan-rekan menyelami sebuah konsep yang sedang hangat dalam dunia pendidikan: Implementasi Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) dalam Pembelajaran di Kelas.
Sebagai pendidik, kita harus memahami bahwa Deep Learning secara kurikulum menuntut murid untuk tidak sekadar menghafal, tetapi mampu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang mereka pelajari. Di era ini, pembelajaran mendalam tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Mengapa? Karena teknologi mampu menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, personal, dan kontekstual. Teknologi adalah katalisator yang mengubah metode tradisional menjadi pengalaman yang lebih bermakna.
Salah satu alat yang paling mumpuni untuk mendukung Deep Learning adalah Google Workspace for Education. Dengan dukungan akun belajar.id yang sudah tersedia bagi guru dan murid, kolaborasi dalam domain yang sama menjadi sangat mudah—baik itu antar-murid, antar-guru, maupun interaksi guru-murid.
Namun, teori seringkali berbenturan dengan realitas di lapangan.
Ujian Nyata: Diesel, Mati Listrik, dan Semangat yang Tak Padam
Kejadian menarik terjadi saat saya mendemonstrasikan kolaborasi menggunakan Google Docs di SMAN 1 Ranau Selatan, Kabupaten OKU Selatan. Di luar prediksi, listrik padam. Mesin diesel segera dinyalakan sebagai energi alternatif, namun tantangan berikutnya muncul: kualitas sinyal internet merosot tajam.
Tanpa membuang waktu, saya memutuskan untuk beralih menggunakan fitur Google Docs secara Offline. Saat diskusi mengenai fitur offline sedang berlangsung, koneksi internet benar-benar hilang total. Saya baru menyadari bahwa di daerah ini, jika listrik padam lebih dari satu jam, sinyal internet akan ikut menghilang. Bahkan, masyarakat setempat sudah terbiasa menghadapi mati listrik hingga berhari-hari.
Modifikasi sebagai Kunci Inovasi
Melihat kondisi ini, penerapan teknologi dalam Deep Learning yang seharusnya berjalan online dan interaktif tidak bisa dilakukan tanpa modifikasi. Saya melihat betapa hebatnya para guru di sana melakukan berbagai siasat agar pembelajaran tetap berjalan di tengah musim mati listrik.
Pengalaman di OKU Selatan ini mempertegas keyakinan saya: Literasi digital bagi murid adalah hak, bukan barang mewah yang ikut padam saat listrik mati. Tugas kita sebagai pemimpin pembelajaran adalah memastikan bahwa setiap murid, di ujung daerah manapun, tetap mendapatkan haknya untuk mengakses masa depan melalui teknologi—apa pun tantangannya.
Sinyal Putus, Ide Terus: Trik Kolaborasi Google Docs Saat Internet Tidak Bersahabat
Oleh: Rani Nawang Sari
Pernahkah Ibu dan Bapak Guru sedang asyik mendampingi siswa berkolaborasi di Google Docs, lalu tiba-tiba indikator sinyal di pojok layar hilang? Di daerah saya mati lampu atau gangguan sinyal adalah makanan sehari-hari yang sering kali memutus momentum belajar siswa.
Namun, keterbatasan infrastruktur bukan berarti kolaborasi digital harus berhenti. Sebagai pendidik, kita harus selangkah lebih maju dari kendala teknis. Berikut adalah panduan praktis untuk memastikan ide siswa tetap mengalir meskipun internet sedang "merajuk".
1. Persiapan: Aktifkan Mode Offline Sekarang!
Langkah paling krusial adalah persiapan saat internet masih stabil. Jangan menunggu sinyal hilang untuk melakukan ini:
Buka Google Drive: Klik ikon gerigi (Setelan) di pojok kanan atas.
Centang Kotak Offline: Cari opsi "Offline" dan centang bagian "Buat, buka, dan edit file Google Dokumen, Spreadsheet, dan Slide terbaru di perangkat ini saat offline".
Pastikan Ekstensi Terpasang: Pastikan Google Chrome Mbak sudah memiliki ekstensi "Google Docs Offline".
2. Strategi Kolaborasi Kelompok Saat Offline
Bagaimana jika sedang kerja kelompok lalu sinyal putus? Inilah triknya agar momentum tidak hilang:
Simpan Secara Lokal Otomatis: Saat fitur offline aktif, siswa bisa terus mengetik di Google Docs mereka masing-masing meskipun ikon awan menunjukkan tanda silang.
Sinkronisasi Otomatis: Ingatkan siswa untuk tidak menutup tab browser mereka. Begitu sinyal kembali atau diesel sekolah menyala dan internet tersambung, Google akan otomatis menyelaraskan (sync) semua perubahan yang dibuat saat offline ke dalam dokumen utama.
Manajemen Tugas: Dalam kondisi internet tidak stabil, bagi tugas kelompok menjadi bagian-bagian kecil. Siswa fokus mengerjakan bagiannya secara offline, dan mereka akan "bertemu" kembali di dokumen digital saat koneksi pulih.
3. Mengapa Ini Penting bagi Kurikulum Kita?
Dalam konsep Deep Learning, refleksi dan aplikasi ilmu tidak boleh terhambat oleh teknis. Dengan menguasai fitur offline, kita memberikan kepastian kepada murid bahwa hasil pemikiran mereka aman dan akan tersimpan.
Literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan internet cepat, tapi soal bagaimana kita tetap produktif dalam keterbatasan. Mari kita pastikan bahwa di sekolah kita, sinyal boleh putus, tapi ide harus tetap jalan terus!
SMAN 2 Ogan Komering Ulu memiliki Komunitas Belajar dengan nama Komunitas Smanda Belajar (KSB). SMAN 2 Ogan Komering Ulu menerapkan Implementasi Kurikulum Merdeka level Berbagi. Dalam rangka berbagi maka KSB menggandeng komunitas dari sekolah sekitar untuk mengajakan kegiatan Bimtek Percepatan Pelaksanaan IKM. Kegiatan ini diikuti komunitas belajar dari SMAN 14 OKU, SMAN 15 OKU, SMAN 16 OKU, SMA Kurnia Jaya, SMKN 4 OKU dan SMK Dhurul Khuldi.
Melalui kegiatan ini saya turut berbagi praktik baik pembelajaran berbasis TIK yang saya lakukan. Selain itu saya juga membagikan bagaimana pemanfaatan PMM untuk menyelesaikan rekomendasi belajar rapor pendidikan sekolah. Melalui kegiatan ini rekan-rekan guru menjadi paham bagaimana pemanfaatan akun belajar.id dalam kaitannya dengan teknologi untuk menghadirkan pembelajaran di kelas. Hal baik dari kegiatan kolaborasi ini adalah akan dilakukan kegiatan rutin kolaborasi antar komunitas belajar dengan harapan dapat saling menginspirasi dan memotivasi antar sesama anggota komunitas belajar.
Konco Batik Nusantara merupakan webinar berseries kolaborasi antara Sahabat Teknologi dari beberapa provinsi. Konco Batik Nusantara merupakan akronim dari Kolaborasi Co-Kapten Berbagi Praktik Baik Se-nusantara 10 Co-Kapten belajar.id yang juga merupakan Sahabat Teknologi 2023 dengan Bapak Asep Yuyun Sahabat Teknologi dari Jakarta Barat sebagai ketua. Kegiatan webinar ini dilakukan dari tanggal 16 - 18 Oktober 2023. Pada Sesi 1 dilakukan tanggal 16 Oktober 2023 dengan narasumber bapak Asep Yuyun, Ibu Era Delvia Sari (Sahabat Teknologi Provinsi Jambi) dan Bapak Randy Oktari (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan). Kegiatan ini dibuka oleh PLT DIrektur SMP Kemendikbud Ristek Bapak drs. I Nyoman Rudi Kurniawas, M.T. Untuk sesi 2 dilaksanakan tanggal 17 Oktober 2023 dengan narasumber Bapak Dian Perdana Putra (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan), Ibu Lia Nurmala (Sahabat Teknologi Maluku Utara) dan bapak Beny Hidayar (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan).
Saya menjadi narasumber di sesi 3 bersama bapak Febri Sulih Pambudi (Sahabat Teknologi Sumatra Selatan), Novia Ayu Lestari (Sahabat Teknologi Bengkulu), Fadhli Oni Raharjo (Sahabat Teknologi Bengkulu). Webinar ini dilakukan tanggal 18 Oktober 2023. Webinar ini diwarnai dengan kondisi mati lampu di rumah bapak Febri Sulih Pambudi dan pak Fadhil. Sehingga untuk share screen materi pemaparan dibantu oleh moderator ibu Lia Nurmala. Alhamdulilaah dengan komunikasi dan kolaborasi yang baik antara narasumber dan moderator kegiatan webinar ini berlangsung lancar.
SMAN 2 Ogan Komering Ulu berada 30 Km dari pusat Kabupaten Ogan Komering Ulu. Memiliki penduduk dengan latar belakang petani karet. 50% siswa setiap hari membantu orang tua menyadap atau memulung getah karet, sehingga keseharian dekat dengan pengolahan karet. Kurikulum yang berlaku adalah kurikulum merdeka. Sehingga proses pembelajaran harus mengakomodir kodrat alam dan zaman siswa. Situasi lainnya yaitu setiap siswa memiliki gawai dan koneksi internet yang memadai.
Pada mata pelajaran Kimia, motivasi siswa rendah, tetapi siswa suka sekali mengeksplore gawai. Baik itu bermain sosial media maupun game. Selain itu siswa menganggap kimia sulit dan materi metode ilmiah membosankan. Inilah yang memunculkan tantangan buat saya. Bagaimana meningkatkan motivasi siswa dan pembelajaran kimia menyenangkan?
Hal yang saya lakukan untuk mengatasi hal ini adalah berselancar di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Mencari praktik baik rekan-rekan guru yang mempunyai kendala serupa. Selain itu saya juga mengikuti pelatihan mandiri yang ada di PMM untuk lebih memahami bagaimana kurikulum merdeka dan penerapannya di kelas. Setelah itu saya memutuskan menggunakan metode Projek Based Learning dengan pendekatan kontekstual menggunakan STEAM mengeksplore keseharian siswa mengolah getah karet, dengan pendekatan teknologi untuk sarana pmberian tugas, pengumpulan tugas (Classroom) dan format pelaporan (Canva) memanfaatkan akun belajar.id.
Awalnya saya memberikan apersepsi kepada siswa bagaimana cara untuk membuat getah karet cepat beku disaat musim hujan? Disini siswa memberikan banyak tips yang biasa mereka lakukan dari memberi larutan tawas, pupuk TSP, cuka, dan banyak tips lainnya. Pada prinsipnya mereka sudah memahami cara mengatasi permasalahan yang ada. Tetapi saat ditanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk getah karet membeku, siswa diam. Mereka tidak bisa memberika jawaban pasti. Setelah mengajukan pertanyaan pemantik saya mengajak siswa untuk membuat projek untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat getah karet membeku dengan adanya zat tambahan yang biasa mereka gunakan. Saya membagi siswa dalam kelompok kecil (4-5 orang) dan membiarkan siswa mendesain projeknya sendiri. Menentukn waktu yang akan merek gunakan dan melaporkan petkembangan projeknya sehingga saya bisa memantau pekerjaan siswa. Setelah selesai semua, siswa membuat laporan projek dalam bentuk infografis yang dibuat dengan menggunakan canva for education yang diakses dengan akun belajar.id. Sebagai tempat pengumpulan tugas dan pemberian materi serta penguatan saya menggunakan Google Classroom.
Setelah melakukan proses pembelajaran Anak-anak termotivasi untuk mengerjakan projek karena merupakan kegiatan yang dekat dengan keseharian mereka. Sehingga terbentuk pola berfikir ilmiah dari peristiwa yang ditemui di lingkungan rumah (kontekstual). Menggunakan Projek Based Learning siswa terbiasa berfikir kritis dan berkolaborasi dalam kelompok berkembang sesuai harapan bahkan untuk beberapa siswa sangat pesat. Melalui pendekatan STEAM yang diterapkan siswa juga dapat menerapkan seni dalam tugas yaitu laporan projek dalam bentuk infografis/poster yang di desain dengan canva. Hal ini membuat siswa dekat dengan teknologi sehingga kodrat aman terpenuhi. Hingga akhirnya hasil belajar siswa juga meningkat.
Video narasi pengalaman pribadi dalam merancang dan mengimplementasikan model pembelajaran inovatif berbasis TIK yang berpusat pada murid dan bersifat kolaboratif dengan memanfaatkan Platform Teknologi. Juga memuat dokumentasi berbagi praktik baik implementasi inovasi pembelajaran yang dilakukan secara tatap maya dan atau tatap muka.
Webinar SMART-ID (Strategi Mendukung Adopsi Pembelajaran Berdiferensiasi ini dilaksanakan sesuai jadwal yaitu hari Selasa 17 Oktober 2023. Kegiatan ini dilakukan melalui Komunitas Belajar PMM "Sahabat PembaTIK". Pembicara pada webinar merupakan kolaborasi dari tiga Sahabat Teknologi yaitu Randy Oktari (Sahabat teknologi OKU Selatan), Rani Nawang Sari (Sahabat Teknologi OKU) dan Febri Sulih Pambudi (Sahabat Teknologi dari Musi Rawas Utara). Webinar ini dibuka oleh Kepala Balai Guru Penggerak Sumatra Selatan ibu Dra. Ohorella Erma, M.Ikom. Pada kesempetan ini beliau berpesan untuk menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi kepada anak agar bisa mengakomodir potensi yang berbeda-beda dari mereka.
Sebagai pembicara pertama Rani Nawang Sari dengan praktik baiknya PROFILATEK (Project Based Learning Lateks dengan Teknologi). Disini bu Rani memaparkan praktik baik yang dilakukan dengan melakukan metode Projek Based Learning pada pembelajaran Kimia dengan pendekatan kontekstual dan STEAM. Dimana tugas anak disampaikan melalui googel Classroom dan laporan projek dibuat dalam bentuk infografis/poster menggunakan canva for education yang memanfaatkan akun belajar.id. Selanjutnya Bapak Febri Sulih Pambudi mendapatkan giliran kedua menyampaikan praktik baik Pembelajaran Kimia Menarik dan Berdifferensiasi dengan TIK. Beliau membagikan praktik baik pembuatan microsite dengan menggunakan Google slide yang memanfaatkan akun belajar.id. Pada bagian akhir bapak Randy Oktari menyampaikan praktik baik yang berjudul BERBATIK MAPAN (Pembelajaran Bahasa INGGRIS berbasis TIK dengan MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF menyenangkan dan ramah jaringan).
Setelah sesi pemaparan praktik baik, dibuka sesi tanya jawab. Peserta terlihat antusias dan mengajukan beberapa pertanyaan. Antara lain pertanyaan dari Bapak Wisnu Nata bagaimana membuka file yang didownload melalui chromebook agar dapat dibuka dengan aplikasi Ms Word. Lalu Saya menjawab bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan karena Chromebook memiliki Google Docs yang sudah terintegrasi. Sedangkan Ms Word tidak terintegrasi dengan Chromebook. Sehingga bapak Wisnu Nata cukup membuka file dari chromebook dan membiasakan diri dengan google docs baik secara online maupun offline.
Berikut video berbagi praktik baik dalam Webinar SMART-ID
Berbagi Praktik Baik TEACHING AT THE RIHGT LEVEL DENGAN ASSURE UNTUK SISWA INKLUSIF (TASI) : PEMANFAATAN AKUN BELAJAR.ID PADA KURIKULUM MERDEKA BAGI SISWA INKLUSIF dilakukan di webinar rutin Komunitas Smanda Belajar. Kegiatan ini diikuti oleh guru SMAN 2 Ogan Komering Ulu dan guru di lingkungan sekitar.
Sekolah merupakan sarana dimana siswa berkumpul untuk belajar dan memperoleh pendidikan termasuk siswa inklusif. Pendidikan inklusif memiliki tujuan untuk memastikan bahwa setiap siswa termasuk siswa inklusif mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Hal ini harus diakomodir dalam kurikulum sekolah. Implementasi Kurikulum Merdeka sudah dilaksanakan di SMAN 2 Ogan Komering Ulu. Kurikulum merdeka merupakan kurikulum yang berpusat pada siswa (student centered learning). Paradigma ini menekankan pada pengembangan kompetensi dan karakter siswa sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Dalam konteks kurikulum Merdeka, diperlukan pendekatan yang tepat agar semua kebutuhan siswa terakomodir.
Saya mengajar kimia di kelas X. Kurikulum Merdeka mulai diterapkan pada kelas X. Ini merupakan tantangan tersendiri. Karena selain mata pelajaran Kimia kurang diminati, saya juga mendapatkan siswa inklusif. Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2023 siswa inklusif adalah peserta didik yang memiliki kelainan fisik, inteletual, sosial, emosional, dan/atau bahasa yang dapat mengalami hambatan dalam proses pembelajaran. Saya mendapatkan siswa inklusif bernama Galang dengan kesulitan belajar sehingga membutuhkan penyesuaian terhadap media dan tujuan pembelajaran. Saya harus menghadirkan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodir kebutuhan semua siswa termasuk Galang.
Teaching at the Right Level (TaRL) menurut Asaad dkk, 2024 merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan pemahaman yang terjadi di kelas. Pada kelas yang terdapat siswa inklusif kesenjangan ini menjadi suatu yang tidak terbantahkan. Tetapi hal ini harus tetap diakomodir agar kebutuhan siswa bisa terpenuhi. TaRL adalah pendekatan belajar berdasarkan kemampuan siswa bukan pada jenjang kelas. Hal ini sesuai untuk diterapkan pada siswa inklusif. Selain itu hal lainnya yang perlu perhatian untuk pembelajaran dengan siswa inklusif adalah pemilihan media pembelajaran yang tepat. Media pembelajaran harus bisa mengakomodir hambatan belajar yang dimiliki siswa. Sehingga siswa menjadi lebih mudah untuk mencapai tujuan belajarnya.
Menurut Pradono (2021) pengembangan media pembelajaran menggunakan langkah ASSURE memberikan hasil yang baik bagi siswa inklusif. ASSURE merupakan desain instruksional dikembangkan oleh Robert Heinich, Michael Molenda dan James D. Russell. Desain ini mengintegrasikan teknologi dan multimedia dalam rangka meningkatkan lingkungan belajar dari sudut pandang konstruktivis (Maghdalena, dkk. 2023). Pada praktik baik ini, saya menggunakan Teaching at the right level dengan Assure untuk Siswa Inklusif (TASI) dengan memanfaatkan Akun belajar.id pada kurikulum Merdeka.
Mengatasi tantangan yang ada saya mempelajari mengenai kurikulum merdeka dan siswa inklusif melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM). Saya login menggunakan akun belajar.id. Disana saya banyak mendapatkan informasi, inspirasi apa yang harus saya lakukan. Mengikuti pelatihan mandiri mengenai kurikulum merdeka dan pendidikan inklusif.
Setelah berselancar di PMM, saya mendapatkan pemahaman bahwa kurikulum merdeka itu menggunakan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL). TaRL merupakan pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk memastikan bahwa siswa memahami dan menguasai konsep-konsep dasar sebelum melanjutkan ke tingkat konsep yang lebih rumit. Maka untuk itu saya harus melakukan asesmen awal untuk menngetahui kemampuan awal siswa termasuk siswa inklusif. Pada proses ini saya menggunakan google form untuk asesmen awal. Khusus untuk siswa inklusif saya menambahkan identifikasi dalam bentuk wawancara untuk mengetahui lebih dalam hambatan belajar yang dihadapi dan media ajar yang tepat.
Selanjutnya membuat Program Pembelajaran Individual (PPI) bagi Galang. Dalam membuat PPI dan modul ajar saya harus memperhatikan karakteristik dan kemampuan peserta didik, memilih media ajar yang tepat, menggunakan kosakata yang sesuai untuk Galang, menunjukkan informasi dalam cara yang sesuai dan memastikan semua peserta didik terlibat dan tertarik untuk belajar. Selain galang ada siswa lain yang juga harus saya perhatikan. Sehingga media yang saya buat harus mengakomodir seluruh kebutuhan siswa. Hal ini harus sesuai dengan prinsip desain universal untuk pembelajaran.
ASSURE yang dilakukan terdiri dari enam tahapan yaitu
1. Analyze (Menganalisis)
Dalam tahap ini, saya melakukan analisis lebih lanjut terhadap data hasil tes dan mengidentifikasi pola kesulitan yang dialami siswa inklusif. Di tahap ini saya melakukan pemahaman mendalam tentang kebutuhan individual siswa sehingga memungkinkan untuk penyesuaikan pendekatan pengajaran secara efektif.
2. State objectives (Merumuskan Tujuan)
Merumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik yang sesuai untuk siswa inklusif. Tujuan untuk siswa inklusif berbeda dengan siswa lainnya sesuai dengan hambatan belajar yang dialami.
3. Select/modify/design materials (Mensintesis)
Saya memilih/memodifikasi/merancang media dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Disini tingkat kemampuan, kebutuhan khusus dan minat siswa menjadi bahan pertimbangan utama dalam memilih media dan metode yang akan digunakan. Proses ini bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna. Hasil dari proses ini digunakan akun belajar.id dan manfaatkan GWfE. Dibuat Google Site, Canva untuk LKPD dan Kartu unsur, Google Form untuk asesmen, Youtube untuk video, dan Google Drive sebagai media penyimpanan, serta Jamboard sebagai media untuk refleksi. Metode pembelajaran digunakan Flipped Classroom.
4. Utilize materials (Memanfaatkan)
Menggunakan metode dan media pembelajaran yang sudah dirancang pada proses pembelajaran di kelas. Metode pembelajaran yang digunakan adalah Flipped Classroom dengan sintak
Pembuatan Materi Pembelajaran: Guru membuat materi pembelajaran seperti video, presentasi, bahan bacaan, LKPD, Asesmen yang dapat diakses oleh siswa melalui Google Site. Lalu membagikan link Google Site pada grup kelas. Google Site klik disini
Pemahaman Awal di Rumah: Siswa mempelajari materi yang telah dibagi di rumah sebelum sesi kelas.
Diskusi dan Pemahaman Mendalam di Kelas: Waktu di kelas digunakan untuk diskusi, menjawab pertanyaan, mengerjakan LKPD, dan kegiatan interaktif yang memperdalam pemahaman siswa tentang materi.
Bimbingan Guru: Guru memberikan bimbingan, membantu siswa memahami konsep yang sulit, dan memberikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang diselesaikan siswa.
5. Require learner response (Melibatkan Siswa)
Pada tahap ini saya mendorong siswa inklusif untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Beberapa hal yang saya dilakukan untuk mendorong partisipasi siswa inklusif adalah:
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat
Memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan siswa
Sehingga pada tahapan ini siswa inklusif merasa sama dan diperlakukan tidak berbeda. Merasa diterima dan berarti bagi kelas. Disini indikator kualitas hidup siswa di sekolah yaitu to live (tumbuh berkembang sesuai dengan bakat dan potensi), to love (menerima pembelajaran yang membahagiakan) dan to play dan mendapatkan pendidikan dan pengembangan diri sesuai kodratnya) terpenuhi.
6. Evaluate (Mengevaluasi)
Hasil pembelajaran siswa dan siswa inklusif dievaluasi dengan teliti untuk menilai apakah tujuan pembelajaran tercapai. Peninjauan hasil evaluasi ini membantu saya mengevaluasi efektivitas metode pengajaran, media dan memperbaiki pendekatan mereka.
Setelah melakukan praktik baik ini saya melakukan sosialisasi kepada rekan-rekan guru yang lain mengenai praktik baik yang saya lakukan. Agar rekan guru yang lain mengenetahui mengenai penanganan siswa inklusif dan proses pembelajaran di kelas. Hasil dari praktik baik yang saya lakukan pada siswa inklusif memberikan hasil yang memuaskan. Secara klasikal siswa mampu mencapai kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran yang ditentukan. Secara khusus untuk Galang siswa inklusif di kelas juga mencapai kriteria ketuntasan tujuan pembelajaran yang dibuat khusus untuk Galang.
Setelah melakukan proses pembelajaran ini, hasil belajar Galang berada pada posisi cakap untuk Kriteria Ketuntangan Tujuan Pembelajaran yang dibuat khusus untuk Galang. Dia sudah mempu menuliskn lambang unsur dua huruf dan membacanya. Nilai yang diperolehnya adalah 80 sehingga Galang tidak perlu dilakukan kegiatan pengulangan materi dan bisa lanjut ke tujuan pembelajaran berikutnya. Perubahan lainnya adalah Galang menjadi lebih bersemangat dan antusias terhadap pelajaran kimia. Galang menyukai media yang saya buat. Selain melalui google site, LKPD untuk Galangsaya cetak dan potong-potong menjadi kartu unsur untuk dipelajari pada bimbingan individu. Warna-warni pada kartu unsur yang saya buat menggunakan Canva menarik perhatian Galang. Keinginan untuk bertanya lebih tinggi dibanding pertemuan sebelumnya tanpa media kartu. Galang menjadi lebih fokus untuk melakukan proses pembelajaran. Disisi lain Galang merasa diperlakukan sama dengan rekan sekelasnya. LKPD dan Materi ajar di share pada google site yang sama.
Hal ini senada dengan hasil penelitin dari Mihai, dkk, 2018 yang menyatakaan bahwa pengalaman disabilitas pada anak-anak berkebutuhan khusus adalah pengalaman yang pribadi dan unik bagi masing-masing anak. Anak-anak dengan berkebutuhan khusus cenderung menyesuaikan diri dengan cara yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan kualitas hidup mereka meskipun mengalami tantangan aksesibilitas dan kegagalan. Dengan kata lain, anak-anak ini menemukan cara untuk mengatasi hambatan dan memperbaiki kualitas hidup mereka meskipun adanya kendala dan keterbatasan.
Setelah sesi sosialisasi dengan rekan di sekolah, hasilnya menunjukkan hasil yang baik. Beberapa rekan sebelumnya merasa kesulitan untuk menghadapi Galang. Setelah mengetahui apa yang saya lakukan rekan-rekan menjadi lebih memahami bagaimana proses pembelajarann yang seharusnya dilakukan untuk Galang.
Pada proses pembelajaran saya fokus pada kebutuhan belajar, tingkat pemahaman dan apa tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan Galang sesuai dengan pendekatan (TaRL). Begitu juga saat memilih media yang tepat dengan desain intruksional ASSURE. Media yang dipilih juga disesuaikan dengan kodrat zaman sehingga mengintegrasikan teknologi. Pemanfaatan akun belajar.id dengan GWfE yaitu Google site, Youtube, Google Form, Jamboard, Google Drive, serta Canva for Education. Sehingga proses pembelajaran menjadi sesuai dengan kebutuhan Galang lengkap dengan kodrat alam dan zaman. Hingga akhirnya indikator hidup untuk Galang terpenuhi to love, to live, to play, to work.
SUMBER LITERATUR
As’ad, M. C., Sulistyarsi, A., & Sukirmawati, J. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan Pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dalam Meningkatkan Hasil Belajar kognitif Siswa kelas X pada Materi Inovasi Teknologi Biologi SMA. EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies, 4(1), 76-85. DOI: 47467/eduinovasi.v4.i1.4366
Magdalena, I., Nuraulia, D., & Kamilatun, N. A. (2023). Implementasi Model ASSURE dalam Pengembangan Desain Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Negeri Sukasari 5 Kota Tangerang. Jurnal Pendidikan: SEROJA, 1(1)
Mihai, S. I., Mane, K. H., & Kachhap, S. (2018). Disability & Quality of Life of Children with Special Needs: An Interpretative Phenomenological Analysis. European Journal of Special Education Research, 3(4).
Pradono, T. G. (2021). Pengembangan Media Lembar Kerja IPA untuk Pembelajaran Daring Siswa Inklusi Melalui Langkah ASSURE di SMPN 3 Probolinggo. Jurnal Ilmiah Pro Guru, 7(4), 384.
Projek Kearifan Lokal merupakan salah satu dati 3 tema yang dipilih pada fase E Kurikulum Merdeka di SMAN 2 OKU. Pada pelaksanaannya murid diarahkan untuk melakukan serangkaian kegiatan agar dimensi dari Profil Pelajar Pancasila dapat berkembang sesuai harapan. Seperti salah satunya Dimensi bernalar kritis. Murid diharapkan dapat mengidentifikasi, menganalisis dan mengolah informasi dan gagasan. Sehingga diharapkan pada akhir fase murid dapat secara kritis mengidentfikasi serta menganalisis gagasan serta informasi yang kompleks dan abstrak dari berbagai sumber. Memprioritaskan suatu gagasan yang paling relevan dari hasil klarifikasi dan analisis.
Untuk itu pada pelaksanaannya murid memerlukan kegiatan dimana dirinya dapat mengidentifikasi dan menganalisis kearifan lokal yang ada. Peta Budaya merupakan salah satu fitur pendukung dari portal Rumah Belajar yang digunakan dalam mendukung kegiatan murid pada bagian ini. Pada Peta Budaya murid bisa menemukan berbagai budaya di Indonesia dan ragam keunikan lainnya. Sehingga murid dapat mengidentifikasi dan menganalisis berbagai ragam kearifan lokal yang ada. Hasil ini dikombinasi dengan wawancara terhadap rekan sebaya, kakak kelas dan para guru terkait kearifan lokal masing-masing akan didapatkan suatu informasi yang lengkap. Hingga akhirnya setelah proses tersebut dilakukan murid dapat memprioritaskan suatu gagasan.
Setelah mendapatkan suatu gagasan untuk ditindaklanjuti dan dianalisis sehingga murid mendapatkan suatu karya untuk dipresentasikan. Kumpulan karya murid dilaporkan dalam format portofolio digital sehingga hal ini akan menjadi lebih dekat dengan teknologi. Upaya ini diwujudkan dalam rangka membentuk ekosistem digital di sekolah.
Mengajar Pakai Teknologi? Gimana Bisa? Sinyal Aja Ga Ada?
Situ enak sekolahnya fasilitas lengkap, sinyal kenceng. Lha saya?
Di tempat kami tidak ada sinyal, jadi ga bisa pakai aplikasi seperti yang lain?
Saya sudah nyaman mengajar seperti ini, anak-anak juga tidak masalah. Kenapa harus repot-repot?
Kalimat-kalimat diatas sering kali saya jumpai saat saya mengajar rekan-rekan guru mengajar menggunakan teknologi. Atau istilah saya "MARI MENGETIK" Mari Mengajar Terintegrasi TIK. Penolakan, rasa putus asa, terkesan tidak perduli dengan apa itu teknologi dan penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas. Padahal sejatinya teknologi akan membantu kita dalam proses pembelajaran, akan lebih efektif dan efisien.
Menurut Profesor Richardus Eko Indrajit, guru yang berhenti belajar pada hakikatnya telah berhenti menjadi guru. Karena sejatinya guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Tentu pernyataan ini adalah suatu hal yang menohok atas profesi kita sebagai seorang guru. Dimana kita harus selalu belajar dan belajar sepanjang hayat. Mempelajari perkembangan inovasi baru dalam pembelajaran di kelas termasuk didalamnya teknologi. Bagaimanapun peran guru tidak akan bisa dan pernah tergantikan oleh teknologi sampai kapanpun. Mengapa? karena teknologi tidak bisa memberikan inovasi, aspirasi, inspirasi, sosok figur yang akan dikenal oleh sang murid. Tetapi apabila guru tidak memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran maka hanya tinggal menungu waktu dia akan tergantikan.
Mengatasi masalah ketiadaan sinyal dan fasilitas yang ada, ini adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Sebagai seorang guru kita harus bisa menaklukkan tantangan itu. Saat tatap muka terbatas dimulai, salah satu kelas yang saya ajar, sebagian besar murid bertempat tinggal di daerah yang sulit sinyal walau mereka mempunyai ponsel pintar. Untuk akses internet harus mencari ketempat yang jauh atau memanjat pohon yang tinggi. Konsidi ini harus diatasi agar siswa bisa belajar dengan nyaman.
Saya menyiapkan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) agar siswa bisa membukanya dirumah berulang kali tanpa hawatir kualitas sinyal. Saat murid jadwal datang tatap muka di sekolah, maka saat itulah saya membagikan MPI melalui bloothoth, atau share it agarmurid bisa mengunduh MPI dalam bentuk apk tanpa harus menggunakan internet. Pada akhirnya murid bisa membuka ulang dirumah untuk dipelajari dan dipahami. Murid senang, pekerjaan guru menjadi ringan, teknologi selalu membantu menyelesaikan tantangan.
Jalan-jalan kepasar batik Jangan lupa membeli bakpia pathuk Tahun ini berlayar di Pembatik Mengajak rekan Mari MengeTIK
Mari MengeTIK Mari Mengajar terintegrasi TIK Ayo kita hadirkan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan murid. Murid lahir dengan kodrat alam dan zaman. Jadi pahami kodrat alam murid, integrasikan pembelajaran dengan kodrat zaman murid.
Ada banyak cara untuk memahami kodrat alam murid. Dengan melakukan wawancara, pengisian quisioner, pengamatan lingkungan, dan masih banyak cara lainnya. Hal ini akan menjadi salah satu pertimbangan dalam mendesain proses pembelajaran di kelas. Sehingga kita sebagai guru akan bisa menghadirkan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan murid.
Kodrat zaman juga tidak boleh luput dari perhatian. Kita harus mampu membimbing murid agar dapat berdaya upaya sendiri atas dirinya sendiri. Oleh karena itu harus dipersiapkan untuk menghadapi lingkungan masyarakat. Zaman saat ini yang serba canggih dan digital maka kita harus siap memberi bekal murid dalam hal teknologi. Selain keterampilan lainnya seperti kolaborasi, berfikir kritis, berfikir kreatif, dan komunikasi.
Oleh sebab itu semua Mari MengeTIK. Mari kita mengajar dengan mengintegrasikan TIK pada prosesnya, Kontennya juga produknya. Agar murid terbiasa berada dalam ekosistem digital, sehingga lebih mudah beradaptasi dalam masyarakat kelak.
Berbagi di SD IT Global Batumarta merupakan suatu pengalaman tersendiri. Disini saya berbagi dengan tema Berdiferensiasi dengan Rumah Belajar. Banyak pengalaman seru saat berbagi. Hal yang luar biasa adalah beberapa guru di sekolah ini adalah murid saya. Ya, mereka adalah murid saya saat dibangku SMA. Saat ini mereka adalah mitra dan rekan sejawat dalam mengajar. Sungguh luar biasa. Ada rasa senang dan bangga saat mereka begitu semangat untuk menambah wawasan dan pengalaman. Binar mata penuh antusias sungguh merupakan suatu hal yang tidak ternilai.
Banyak hal yang saya peroleh dari kegiatan kali ini. Bagaimana mereka dengan fasilitas yang ada berusaha untuk memaksimalkan proses pembelajaran. Bagaimana mereka mengutamakan karakter siswa diantara lainnya. Saya banyak berefleksi dari kegiatan berbagi kali ini. Salah satunya yaitu hasil asesmen dan pengamatan terhadap peserta didik di dapati beberapa siswa memiliki keistimewaan sehingga dalam proses pembelajarannya harus mengerahkan ilmu pendidikan inklusif.
Silahkan disimak dokumentasi kegiatan berbagi dengan tema "Berdiferensiasi dengan Rumah Belajar"
Pembelajaran berdiferensiasi bisa dilakukan dengan memanfaatkan Rumah Belajar dalam mewujudkan Ekosistem Digital. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam persiapan belajar murid sebelum memulai pembelajaran yaitu
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru.
Minat belajar merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.
Profil pelajar merupakan bagaimana murid paling baik untuk belajar.
Mengakomodir pembelajaran berdiferensiasi ini ada tiga strategi yang bisa dilakukan yaitu
Diferensiasi konten
Diferensiasi proses
Diferensiasi produk
Rumah Belajar memiliki berbagai fitur yang bisa digunakan dalam mendukung pembelajaran berdifernsiasi antara lain sumber belajar, edugame, augmented reality, laboratorium maya dan banyak lainnya. Pada sumber belajar murid bisa mendapatkan madia pembelajaran dalam bentuk video, web, multimedia pembelajaran interaktif dan audio. Edugame menawarkan game edukasi yang cocok digunakan sebagai media siswa kinestetik dan juga disukai oleh banyak murid. Untuk augmented reality siswa mendapatkan pengalaman melihat bentuk asli dari materi yang dipelajari, murid visual sangat menyukai media ini.
Pada pembelajaran asam basa saya menyiapkan satu link microsite yang memuat kumpulan materi yang dibutuhkan murid. Pemilihan microsite ini karena dekat dengan murid saat mereka berselancar di sosial media atau belanja online mereka sering menemukan microsite ini. Setelah proses pembelajaran berakhir, siswa diminta tagihan tugas-tugas dalam bentuk portofolio digital. Sehingga murid dekat dengan teknologi. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan ekosistem digital sekolah. Cukup satu link dapat membuka semua tagihan murid. Disamping itu keterampilan literasi digital murid meningkat.
Awal pembelajaran saya membuka pembelajaran, memberikan pertanyaan pemantik kepada murid untuk memancing rasa ingin tahu. Kemudian saya memberikan media pembelajaran dalam bentuk microsite untuk selanjutnya murid menggali informasi dari berbagai bentuk yang bisa dipilih, yaitu video pembelajaran, multimedia pembelajaran interaktif, dan emodul. Diferensiasi konten dilakukan pada tahapan ini. Setelah menggali informasi murid menyelesaikan masalah yang dihadapi pada LKPD dengan dipadu dengan edugame agar siswa lebih merasa tertantang dan mengakomodir gaya belajar murid. Dibagian penutup untuk tagihan projek murid diminta untuk membuat Google Site sebagai portofolio digital berisi kumpulan tugas murid pada materi asam basa (Larutan asam basa, larutan penyangga, hidrolisis garam). Bagian ini merupakan bagian dari usaha saya dalam menghadirkan ekosistem digital sekolah.
Berikut adalah video dokumentasi kegiatan praktik baik pembelajaran berdiferensiasi memanfaatkan Rumah Belajar Wujudkan Ekosistem Digital. Silahkan disimak.
Kali ini Komunitas Smanda Belajar berkolaborasi dengan Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat dalam suatu webinar dengan tema "Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK". Komunitas Smanda Belajar membuat webinar di PMM dengan link yang sama dengan Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat. Sehingga kedua anggota komunitas dapat berbagi pengalaman dan praktik baik.
Komunitas Belajar adalah sekelompok guru, tenaga kependidikan, dan pendidik lainnya yang memiliki semangat dan kepedulian yang sama terhadap transformasi pembelajaran melalui interaksi secara rutin dalam wadah di mana mereka berpartisipasi aktif. Adapun manfaat dari komunitas belajar ini adalah memfasilitasi belajar bersama tentang Kurikulum Merdeka, memfasilitasi diskusi pemecahan masalah sekaligus berbagi praktik baik Kurikulum Merdeka, memfasilitasi kolaborasi pengembangan perangkat ajar berbasis Kurikulum Merdeka dan memfasilitasi refleksi pembelajaran rekan sejawat. Apabila ingin mendaftar Komunitas Belajar bisa dilakukan di Platform Merdeka Mengajar dengan syarat pengurus sudah menyelesaikan minimal satu topik Pelatihan Mandiri.
Praktik Baik Pembelajaran Berbasis TIK yang diangkat kali ini adalah Praktikum Virtual Enzim Katalase Memanfaatkan Fitur Laboratorium Maya dari Portal Rumah Belajar oleh Pak Rahmat Effendi dari Komunitas Belajar SMAN 4 Tanjung Jabung Barat dan Implementasi Rumah Belajar dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Wujudkan Ekosistem Digital oleh Ibu Rani Nawang Sari dari Komunitas Smanda Belajar.
Pada saat webinar berlangsung ternyata banyak peserta diluar komunitas juga ikut bergabung, seperti dari Jombang, Sumatra Barat, Pontianak, Banjarnegara. Sehingga makin seru sharing dan diskusi yang terjadi. Hal ini disebabkan pengalaman dan temuan yang berbeda dari masing-masing peserta serta saling refleksi pembelajaran yang telah dilakukan. Kegiatan webinar bisa disaksikan pada video berikut
Referensi: Materi “Komunitas Belajar” dari Bimbingan Teknis Penguatan IKM di Tangerang, pada 13 - 16 Juni 2022